Tradisi Marpangir Terus Dilestarikan Masyarakat Kota Medan Jelang Puasa Ramadan.

Natamagazine.co – Puasa Ramadan 2020 sudah tiba kembali, bulan penuh berkah dan ampunan yang dinantikan semua umat muslim di seluruh dunia tanpa terkecuali termasuk masyarakat muslim Kota Medan yang memiliki kebiasaan dan tradisi mandi unik dan menarik jelang bulan suci Ramadan yaitu “Marpangir” atau mandi pangir sebagai warisan budaya nenek moyang yang terus dilestarikan.

Setiap tahun jelang sehari sebelum puasa Ramadan, tradisi mandi pangir atau Marpangir dilakukan. Marpangir adalah kegiatan mandi cara tradisional tidak dengan wewangian yang diperoleh dari sabun mandi atau sabun cair tapi dari dedauan dan rempah yang menghasilkan aroma wangi semerbak yang disebut “Pangir” atau rempah untuk maksud dan tujuan menyucikan diri menyambut bulan suci Ramadan.

Pangir terdiri dari daun pandan, daun serai, bunga mawar, kenanga, jeruk purut, daun limau, akar wangi dan bunga pinang yang diikat lalu direbus yang dipakai untuk mandi dan keramas rambut agar seluruh tubuh bersih dan wangi. Berdasarkan sejarah, tradisi mandi ini dahulu dilakukan masyarakat Hindu Kuno di Sumatera Utara sebagai kegiatan mandi suci sebelum Islam masuk ke Indonesia. Awalnya hanya dilakukan masyarakat batak muslim suku Mandailing Natal di rumah masing-masing atau beramai-ramai ke tempat pemandian dan aliran sungai jelang bulan suci Ramadan, tapi kini sudah menjadi kebiasaan umum masyarakat muslim di Kota Medan. Kenapa diminati karena wangi khasnya membuat relaks pikiran dan hati disamping menyegarkan badan. Uniknya, pangir hanya ada dijual jelang bulan Ramadan dan dijual murah di hampir pasar-pasar tradisional di Kota Medan.

Mandi pakai pangir masih dipercaya masyarakat muslim kota Medan bermanfaat dan alami ketimbang mandi pakai sabun wangi yang kimiawi jelang bulan suci. Sehingga jadi percaya diri saat menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Masyarakat Kota Medan juga percaya, ini wujud peduli menjaga dan meneruskan warisan budaya selama tidak bertentangan dengan ajaran agama karena zaman terus berubah, tapi jangan sampai krisis budaya karena bangsa ini lahir dari tradisi yang dilakukan nenek moyang secara turun menurun yang harus diakui saat ini banyak yang hilang akibat arus globalisasi, pengaruh budaya asing dan penyebaran agama.

Tidak hanya Marpangir di Kota Medan, jbermacam tradisi mandi suci dilakukan masyarakat muslim di Indonesia jelang puasa Ramadan di sungai-sungai, pemandian atau mata air. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur disebutnya “Padusan”, cara yang dilakukan para Wali Songo saat menyebarkan Islam di tanah jawa. Kalau di Sumatera Barat disebutnya “Balimau”, yaitu cara mandi menggunakan air jeruk nipis atau limau. Tujuan utamanya adalah membersihkan diri sebelum melaksanakan ibadah puasa, sehingga ketika mengerjakan ibadah suci tersebut badan, hati, dan pikiran telah bersih. (Nm)


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Halua, Manisan Khas Langkat Warisan Budaya Melayu Yang Masih Berjaya

Natamagazine.co – Semua para penikmat jajanan dan makanan pasti mengenal manisan. Berbagai jenis manisan tersebar ...

Translate »