Torang Sitorus, Perspektif, Sejarah dan Cinta serta Perjalanan Mengenal Ulos

Natamagazine.co – Tapanuli Utara, sebuah daerah yang tidak jauh dari pesona keindahan Danau Toba dan kerap dijadikan sebagai ikon tanah batak adalah tanah kelahiran seorang Torang Mt Sitorus. Dan dari sinilah perjalanan mencintai ulos itu dimulai. Mengapa akhirnya ulos membawanya dikenal tidak hanya sebagai pecinta ulos tapi akhirnya sebagai kolektor, pelestari ulos, kain khas tradisional Suku Batak bukan sebagai seorang fashion designer.

Bungsu dari 6 bersaudara yang sejak kecil memang sudah terlihat berbeda dengan saudaraku lainnya soal ketertarikannya dengan seni dan ulos. Tidak begitu menyukai sekolah formal, bukan berarti menghambatnya beraktivitas menolong dan menemani ibunya yang pada saat itu menjadi pengusaha catering dan aktif dalam kepengurusan organisasi dharma wanita yang lebih dianggapnya menyenangkan dibandingkan harus mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru di sekolah.

Dalam perjalanan menemani ibunya dari satu desa ke desa lain, akhirnya ditemukan kebahagiaan dari sekedar mengamati aktivitas orang pada waktu itu, hingga di sebuah kesempatan melihat kegembiraan yang terpancar dari wajah ibunya karena menerima hadiah Ulos Harungguan oleh kerabatnya. Momen ini terekam abadi dalam ingatannya hingga sekarang sebagai momen cinta pertamanya kepada ulos. Sejak saat itu, rasa penasarannya terhadap ulos terus berlanjut karena begitu eratnya ulos dalam kehidupan masyarakat Batak, baik suka maupun duka.

Kesederhanaan dalam menemukan kebahagiaan pada saat menyaksikan perempuan-perempuan Batak melakukan martonun (Bahasa batak yang artinya bertenun) untuk mengisi waktu senggang di sore hari, adalah potret kebahagiaan yang sangat dikaguminya, apalagi teknik pewarnaan dan material yang dimanfaatkan pun seluruhnya berasal dari alam. Kekaguman itu semakin bertambah ketika hasil tenun di waktu senggang tersebut menghasilkan ulos yang begitu indah.

Ada makna yang tersirat dalam setiap motifnya yang belakangan diketahui bahwa setiap motif memberi informasi dari mana asal ulos tersebut. Seiring berjalannya waktu, akhirnya mendapat dukungan penuh dari ibunya yang mendelegasikan ulos turun temurun keluarga untuk menjadi koleksi ulos pertamanya. Ini merupakan kepercayaan yang wajib dipertanggungjawabkan sekaligus berkah hingga saat ini.

Ulos kini telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan hidup yang menjadi identitas melekat pada dirinya. Cerita tentang ulos ya cerita tentang Torang Mt Sitorus sampai akhir hayat karena ulos adalah jiwa dan juga raganya. Masa muda dilalui dan ditemani sesuatu yang baru tentang ulos. Tidak pernah ada sedikitpun rasa pesimis muncul dalam dirinya atas investasi waktu yang telah diluangkan karena kecintaannya terhadap ulos begitu besar.

Beberapa orang pernah bertanya kepadanya tentang bagaimana caranya menikmati keindahan sebuah ulos? Pertanyaan yang buatnya sangat bisa dimengerti sekali. Dan jawabannya adalah selain bakat yang menjadi syarat utamanya, harus ada cinta. Dan cinta terhadap ulos tidaklah begitu saja muncul dalam diri, ada tahapan di dalamnya. Awalnya hanya mengagumi warnanya yang spesial, lalu mengagumi tingkat kesulitan dalam membuatnya dan sekarang sudah berada dalam tahap bagaimana kecintaan terhadap ulos ini bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Aku berkeyakinan bahwa ulos dan artisan tenun ulos adalah potensi bagi kampung halamanku, mereka harus bisa berkontribusi bagi pembangunan daerahnya, tidak hanya sebagai objek melainkan pelaku pembangunan itu sendiri”, jelas Torang dalam suatu wawancara di rumah sekaligus galleri ulosnya di Perumahan Royal Sumatera Golf Course.

“Tidak ada proses pendidikan formal atas pemahamanku memajukan daerah, tapi melalui pengembangan ekonomi lokal, hal itu dapat terwujudkan karena sesungguhnya guru terbaik adalah pengalaman itu sendiri, aku hadir, tumbuh, maju dan berkembang bersama mereka para penenun ulos karena kami akan menjadi pahlawan bagi diri kami sendiri, dan berdiri di atas kaki sendiri,” tambahnya.

Selama 2 dekade terakhir, melengkapi seluruh koleksi ulosnya yang telah menjadi candu, terus memicunya untuk menyelesaikan puzzle yang telah dimulai sejak 20 tahun lalu. Lalu apa sebenarnya yang menjadi tujuannya dalam menyelesaikan pekerjaan mengumpulkan ulos ini? Ada 2 hal yang menjadi jawaban atas pertanyaan ini.

Pertama, adalah isu keberlanjutan ulos di masa yang akan datang dimana pakem budaya dan makna ulos yang terkandung di dalamnya harus dapat dilegasikan kepada generasi mendatang. Sebagaimana awal kecintaannya terhadap ulos dimulai lalu diperoleh pengetahuan tentang sejarah dan budayanya, begitu juga yang diharapkan kepada generasi mendatang.

Kedua, perempuan-perempuan penenun ulos adalah sosok yang sangat dikaguminya, mereka layak disebut sebagai artisan. Bakat yang mereka miliki harus terus tumbuh dan berkembang bersamaan dengan keberlanjutan ulos di masa-masa yang akan datang.

Kedua hal inilah yang melatarbelakanginya untuk menjadi kampiun dalam mendesain program dampingan yang disebutnya sebagai Partonun. Sejatinya partonun adalah program dampingan bagi artisan tenun ulos dalam aspek kelembagaan, finansial dan inovasi agar mereka dapat tumbuh mandiri.

Artisan tenun ulos harus disadarkan bahwa merekalah yang sebenarnya diandalkan untuk menjadi potensi bagi daerahnya. Mereka harus bisa berkontribusi bagi pembangunan yang dimulai dengan membangun dirinya sendiri.

Bagi Torang, pembangunan harus bersifat inklusif, bisa dinikmati oleh semua orang. Perjalanannya bersama artisan tenun ulos untuk mewujudkan keberlanjutan ulos pada akhirnya mengajarkan kepadanya bahwa pemberdayaan yang sesungguhnya adalah menjadikan manusia mengetahui apa yang menjadi kebutuhannya dan bertanggung jawab atas pilihannya serta memperkenalkan Ulos secara massive.

Sebagai seorang kolektor ulos, bukan perkara yang mudah mengenal jenis-jenis ulos, harus ada unsur bakat di dalamnya yang tentu diasah dalam perjalanan mengenal ulos itu sendiri. Bukan perkara mudah juga untuk tahu profil sehelai ulos hanya dengan melihat dalam hitungan detik, karena ulos itu sendiri sangat beragam meskipun memiliki ciri khas yang berkaitan antara satu dan lainnya.

Baginya seperti diberi sebuah petunjuk melalui motif, bahan, warna dan cara menenun yang terus memancing rasa penasaran untuk mengenal ulos lebih jauh, kemudian dengan petunjuk itu membawaku kepada jenis ulos dan tempat lainnya hingga menemukan sesuatu yang baru, lagi dan lagi, ini terus berulang ibarat candu yang mendorongnya untuk terus mencari ulos sebanyak-banyaknya.

Hingga kini Torang telah mengoleksi setidaknya 1000 helai tenun ulos yang menjadikanku sebagai kolektor ulos terbanyak dan terlengkap saat ini. Lalu apakah ini yang menjadi tujuan akhir hidupnya? Sama sekali bukan. Sebab Torang optimis ulos akan memiliki perjalanan panjang ke depannya, untuk itu dia membutuhkan dukungan yang lebih massive.

Tahun 2019, koleksi ulosnya didapuk menjadi ikon pada pameran sekelas Adiwastra Nusantara, dalam beberapa event nasional seperti Indonesia Fashion Week. Torang telah berkolaborasi dengan beberapa perancang kenamaan di Indonesia untuk bersama menciptakan pakaian berbahan dasar ulos.

Torang memperoleh sambutan positif atas upaya memperkenalkan ulos ini, karena dalam beberapa kesempatan tak jarang banyak tokoh pembangunan di Indonesia yang memakai ulos pada pertemuan internasional, mereka kagum dan bangga pada ulos. Salah satu koleksi The Passamot yang berhasil mencuri atensi publik pada gelaran Indonesia Fashion Week merupakan karya masterpiece dan persembahannya pada industri fashion tanah air. Sebuah gebrakan signifikan dengan melakukan replikasi ulos passamot dengan inovasi pada material yang digunakan sehingga menjadikannya lebih nyaman untuk dikenakan sebagai jenis ready to wear.

Torang bahagia telah menginspirasi banyak orang, mentransfer energi positif bagi orang lain untuk bisa maju bersama. Dalam beberapa kesempatan, dia juga berinisiatif untuk sedikit keluar dari aturan konvensional karena kerap dimintai saran untuk memadupadankan ulos dengan kebudayaan lain pada riasan pengantin yang ternyata justru memberikan tampilan yang lebih segar dan mewah. Sekali lagi ini dilakukan untuk menjadikankan ulos lebih dikenal luas oleh masyarakat sebagai identitas negeri dan mengapa tidak menjadi warisan dunia seperti halnya batik.

Suatu identitas haruslah bisa dibedakan dengan yang lain, harus memiliki keunikan serta kelebihan selayaknya sebuah merk dagang, ini juga berlaku buat ulos. Ulos memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri dari filosofi hidupnya maupun wujud fisiknya dan berbeda dengan kain tenun lainnya yang memiliki kelebihan yang dapat dinikmati.

Tujuan Torang sudah jelas yaitu ingin semua wastra yang ada di Indonesia bisa bersaing dalam hal positif. Rasanya tidak jarang kekayaan bangsa ini diklaim menjadi milik bangsa lain, penyebabnya adalah karena kebudayaan itu belum menjadi identitas, masih banyak orang yang belum bangga memperlihatkan kekayaan budaya sebagai asset dan sebuah identitas.

Tulisan ini dibuat sehubungan Torang Mt Sitorus segera akan release sebuah buku kembali setelah 3 buku sebelumnya yang akan menambah wawasan siapa saja tentang ulos, yang dikemas semenarik mungkin agar bisa dinikmati oleh siapa saja, termasuk orang yang baru pertama kali mengenal ulos.

Uraian mengenai jenis, ukuran dan penggunaan masing-masing ulos dilengkapi dengan gambar-gambar untuk memberikan perkenalan yang menyeluruh terhadap ulos adalah isi dari buku yang menjadi bukti dan dedikasi dan kecintaan yang dalam terhadap ulos agar menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. (Nm)


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kunjungan Resmi ULCLA Akademi Pariwisata Tarutung Bersama MASATA (Masyarakat Sadar Wisata) DPD Sumatera Utara ke Badan Pelaksana Otorita Danau Toba

Natamagazine.co – Kunjungan resmi ke Badan Pelaksana Otorita Danau Toba dilakukan Frans Panggabean, Pembina Yayasan ...

Translate »