10 Pepatah Minang Yang Bisa Diterapkan di Masa Pandemi dan di Perantauan.

Natamagazine – Ada yang tidak tahu rendang? Tidak tahu juga asal makanan yang terkenal di seluruh dunia tersebut darimana? Yang ingat sejarah perjuangan Tuanku Imam Bonjol dengan Kaum Paderinya merebut kemerdekaan berasal darimana? Atau kisah legenda Malin Kundang anak durhaka dan cerita Siti Nurbaya? Tepat sekali, kesemuanya makanan, sejarah, legenda dan cerita berasal dari Suku Minang, Padang,  Sumatera Barat.

Bicara Sumatera Barat tak lepas dari Suku Minang, juga tak lepas dengan pesona pariwisatanya yang luar biasa indahnya mulai dari Kelok Sembilan sampai Ngarai Sianok dimana terdapat Jam Gadang yang terkenal dan menjadi icon Kota Bukit Tinggi. Begitu pula seni budayanya dari Kain Songket Silungkang sampai Tari Piring dan Tari Saman serta rumah gadangnya yang unik dan khas yang kesemuanya memiliki filosofi hidup dan kearifan lokal.

Ada yang tidak pernah makan nasi padang yang sampai dibuatkan jadi judul lagu? Sepertinya tidak ada, nasi lengkap dengan aneka pilihan makanan yang dapat ditemui tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri seiring kebiasaan merantau masyarakat Suku Minang dengan pepatah-pepatahnya yang selalu dipegang teguh saat merantau.

Simak 10 Pepatah Orang Minang Sumatera Barat berikut ini, bekal hidup berhasil di negeri orang yang semoga inspiratif pada masa pandemi. Apa-apa sajakah itu?

1. Dimana bumi dipijak disinan langik dijunjuang.

Pepatah ini pasti udah sering diketahui karena jadi pepatah paling populer di Indonesia. Secara gamblang, pepatah ini mengajarkan untuk mematuhi dan menghormati adat istiadat tempat tinggal dimanapun berada.

Suku Minang sendiri dikenal dengan sikap mereka yang suka berbaur dengan masyarakat tempat mereka tinggal. Kemampuan bersosialisasi menjadi salah satu kunci sukses mereka. Prinsip ini juga bisa ditiru. Sebab bila punya networking cukup luas, peluang untuk sukses jadi jauh lebih besar.

2. Walau kaie nan dibantuak ikan dilauik nan diadang.

Pepatah ini mengajak setiap orang Minang untuk memiliki pemikiran, visi dan misi dari sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan menjunjung tinggi kejujuran dan kebaikan.

Kemudian, bayangkan juga bagaimana proses pengerjaan serta hasilnya. Jadi, bakal bisa diprediksi apakah usaha atau pekerjaan yang dilakukan bakal berhasil atau tidak.

3. Baraja ka nan manang, mancontoh ka nan sudah.

Pepatah Minang satu ini punya artian belajar dari mereka yang sudah sukses dan ambil hikmah dari kegagalan orang lain. Orang Minang sudah dididik sejak kecil memiliki pribadi dan nyali yang tangguh dan berani menghadapi tantangan. Mereka juga diajari untuk siap mengalami kegagalan karena selalu ada hikmah di baliknya.

Maka dari itu kegagalan bukan dianggap sebagai hal menakutkan, yang seringkali menghalangi orang untuk mencoba hal-hal baru. Di tanah rantau, keberanian mencoba hal-hal baru adalah modal utama untuk bisa berhasil bertahan hidup. Adapun kisah sukses dari orang terdahulu, mereka jadikan panutan. Mereka tidak gengsi untuk terus belajar dan berguru dari orang sukses.

4. Tiado rotan akapun jadi, tiado kayu janjang dikapiang.

Pepatah Minang satu ini punya arti “Tak ada rotan akar pun jadi. Tak ada kayu, tangga pun dibelah”. Orang Minang selalu jeli dalam memanfaatkan peluang. Tak heran kalau anak mudanya pun aktif berkarya di ranah rantau membentuk kumpulan dan komunitas.

Kesempatan menuntut ilmu di ranah rantau dimanfaatkan dengan baik oleh para mahasiswa Minang. Sebisa mungkin mereka tak hanya sekadar menuntut ilmu di bangku kuliah, tapi juga menorehkan prestasi. Tak hanya prestasi di bidang akademis, tapi juga di bidang lainnya.

5. Takuruang nak dilua, taimpik nak diateh.

Pepatah di atas berarti “terkurung hendak di luar, terhimpit hendak ke atas”. Pepatah tersebut mengajarkan bahwa kegagalan apapun hendaknya dibuat untuk semakin berusaha. Meski lagi terjepit masalah, tetap harus mencoba cari celah buat keluar dari masalah yang terjadi.

Misalkan lagi gagal berbisnis dan menguras cukup banyak tabungan yang dimiliki. Tapi hendaklah tidak berfokus pada kegagalan tersebut. Tetap harus menghadapi masalah bahkan sebisa mungkin bangkit kembali dari keterpurukan tersebut. Kegagalan bisa menjadi pelajaran berharga untuk memperhitungkan langkah-langkah berikutnya yang terbaik.

6. Katiko ado ditahan Lah tak ado baru dimakan.

Pepatah keuangan yang dimiliki oleh Suku Minang ini mungkin terdengar aneh dan tidak biasa. Arti dari kalimat di atas adalah “saat punya sebaiknya ditahan, kalau sudah tak ada baru dimakan”.

Pepatah ini mungkin terdengar pelit. Namun, ternyata memiliki makna lebih dalam. Prinsip ini mengajarkan untuk berhemat dan memikirkan masa depan dengan punya tabungan, khususnya tabungan dana darurat. Jadi, semisal belum perlu sekali jangan gunakan uang yang sudah ditabung tersebut.

7. Esa hilang dua terbilang, kalau tak berhasil biar nyawa berpulang.

Pepatah di atas sering dijadikan sebagai pegangan kuat buat suku Minang agar sukses di rantau. Kalimat di atas berarti “satu hilang dua terbilang, kalau tidak berhasil biar nyawa hilang”. Kalimat di atas punya makna pantang pulang jika belum sukses. Bahkan, lebih baik nyawa hilang ketimbang tidak sukses.

Pepatah tersebut bakal jadi semacam cambuk buat perantau Suku Minang bekerja lebih keras lagi. Kamu pun bisa mencoba prinsip tersebut. Jika belum berhasil dalam perantauan, terus berusaha lebih keras lagi buat mengejar cita-cita daripada terlalu cepat menyerah.

8. Hiduik baraka, baukua jo bajangko, aluminum rabah lah ka ujuang, alun pai lah babaliak, alun di bali lah bajua, alun dimakan lah taraso.

Pepatah ini memiliki arti hidup berakal, berukur dan berjangka, belum rebah sudah keujung, belum pergi sudah kembali, belum dibeli sudah dijual, belum dimakan sudah terasa. Pepatah ini menjelaskan bagaimana hidup harus berakal, terukur dan berjangka.

Singkatnya hidup harus mempunyai visi, berpikir jauh ke masa depan. Seperti, alun dimakan alah taraso, belum dimakan sudah terasa, makanannya belum dimakan tapi sudah terbayang bagaimana rasanya. Begitulah hidup seharusnya mempunyai arah dan tujuan. Semua direncanakan dengan baik.

9. Nana kuriak iyolah kundi, nan merah iyolah saga, nan baiak iyolah budi, nan indah iyolah baso.

Pepatah ini memiliki arti yang burik ialah kundi, yang merah ialah sega, yang baik ialah budi, yang indah ialah basa basi. Menjaga lidah dan bahasa (perkataan) sangat penting.

Banyak perselisihan terjadi hanya karena lidah tidak bisa menjaga perkataan dengan baik. Maka dari itu, di tanah rantau baik-baiklah menjaga lisan dan ucapan agar tak tak punya banyak musuh dan dimusuhi. Karena mencari musuh perkara mudah daripada mencari persaudaraan.

10. Lamak dek awak, katuju dek urang.

Pepatah ini merupakan salah satu ungkapan dalam petuah Suku Minang yang mengajarkan tentang tenggang rasa. Lamak dek awak berarti bagi kita enak, dan katuju dek urang berarti bisa diterima oleh orang lain. Singkatnya sama-sama enak, baik bagi kita maupun baik bagi orang lain.

Salah satu nilai yang perlu ditanamkan dalam diri orang minang terutama bagi mereka yang berada di perantauan adalah kesetiakawanan atau sikap loyal. Itu mengapa sesama Suku Minang di perantauan, ikatan persaudaraan selalu dijunjung tinggi meski bukan berasal dari satu kampung karena masing-masing merasa jauh dari keluarga. Banyak dibuat paguyuban Suku Minang yang beragam.

Meski pepatah-pepatah yang disebutkan menggunakan bahasa Minang dan dijadikan pedoman kebanyakan Suku Minang bukan berarti tidak bisa dijadikan pedoman. Ada ratusan pepatah Minang yang ditujukan untuk menuntun, dan memberi motivasi dan penyemangat hidup. Bukti bangsa ini telah bermartabat dan memiliki budaya yang arif sejak lampau.

Khasanah budaya bangsa Indonesia yang merupakan warisan nenek moyang yang lahir bukan tanpa alasan sangat beragam dari sabang sampai merauke, termasuk di dalamnya pepatah-pepatah Suku Minang. Hendaknya terus diturut dan dilestarikan. Jangan akibat perubahan zaman dan perkembangan teknologi yang teramat menguap hilang seperti genangan air di aspal yang terik.

Banyak petuah dan nasehat berharga yang mengajarkan akhlak, kebaikan dan kebijaksanaan yang pasti lahir dari pengalaman hidup dan dari masa sulit yang baik diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bangsa ini telah memiliki itu dan segalanya termasuk pribahasa-pribahasa tanpa harus apa kata siapa dari para leluhur dan nenek moyang tercinta. Nenek moyang mewariskannya ke generasi saat ini tanpa nama tanpa identitas dan itu luar biasa.

Apa yang akan diwariskan generasi saat ini kepada generasi mendatang itu pertanyaan besar yang harus dipikirkan. Pepatah hanya jadi pepatah bila tidak diterapkan. Namun, bila menjadikan pepatah tersebut pedoman, aturan, landasan dan akar yang kuat maka keberhasilan hidup akan tercapai. Perdamaian, kerukunan, keamanan, ketertiban, kenyamanan akan tercipta. (Nm).


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Bangsa Indonesia Bangga karena Pemandian Alam Air Soda di Dunia Selain di Venezuela ada di Tarutung, Sumatera Utara

Natamagazine.co – Indonesia harus bangga akan keajaiban alam ini karena berada di bumi pertiwi. Masyarakat ...

Translate »