10 Fakta Tradisi Unik dan Menarik Selama Perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali

Natamagazine.co – Tahukah selama persiapan penyambutan perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan terdapat fakta tradisi unik dan menarik yang tidak bisa terpisahkan dan tidak disadari? Berikut 10 fakta unik dan menarik perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan.

1. Tape Ketan/pulut.

Tape ketan atau biasa disebut sebagai tape Galungan yang terbuat dari beras ketan di mana pembuatannya dilakukan saat Penyekeban atau tiga hari sebelum Galungan. Makanan ini juga menggunakan ragi dalam proses fermentasinya dan bawang putih untuk memberi aroma khas pada tape itu sendiri.

Biasanya pembuatan tape ini akan dilakukan pada suatu wadah yang dipinggirnya diisi daun pisang. Kemudian wadah tersebut ditutup rapat dan dibuka saat penampahan Galungan yang selanjutnya digunakan sebagai sarana upakara saat Hari Raya Galungan. Selain itu, untuk memberi warna pada tape, biasanya digunakan daun suji atau daun katuk sehingga tape tersebut berwarna hijau dan saat Hari Raya Galungan diletakkan pada sodan atau punjungan.

2. Penjor.

Penjor merupakan hal wajib yang ada saat Hari Raya Galungan. Penjor merupakan lambang Bhatara Mahadewa yang beristana di Gunung Agung atau Bhatara Siwa. Keberadaan penjor menjadikan perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan menjadi semarak. Setiap rumah dan semua pura tempat ibadah, penjor hadir beraneka bentuk dan rupa dari hiasan janur melengkung setinggi 10 meter.

Penjor merupakan simbol gunung yang memberikan kesejahteraan dan keselamatan yang dilambangkan dengan Naga Basuki atau Ananta Boga yang dalam membuat penjor, adapun sarananya yaitu pala bungkah atau segala jenis umbi-umbian, pala gantung segala jenis yang tergantung seperti buah-buahan, palawija atau biji-bijian hasil bumi, bambu, kasa putih kuning, lamak. Penjor lalu ditancapkan di depan pintu masuk saat penampahan sore agar esoknya saat Galungan masih dalam keadaan segar.

3. Lawar.

Perayaan Galungan dan Kuningan, kurang lengkap rasanya tanpa lawar. Tradisi ngelawar merupakan simbol kebersamaan dan gotong royong. Semua anggota keluarga, hingga anak-anak, akan diminta membantu memasak di dapur. Lawar sendiri merupakan masakan campuran antara sayuran dan daging cincang. Daging yang digunakan bisa apa saja, seperti ayam, kerbau, babi, dan bebek.

Ada banyak macamnya, paling unik ada lawar komoh (darah cair). Lawar tersebut jarang sekali diminati, karena hanya berisi hati diiris kecil-kecil. Selanjutnya irisan tesebut dituangkan dengan semangkuk darah segar yang sudah sudah dicampur bumbu matang.

4. Jaje uli.

Makanan manis legit jaje uli ini tidak pernah tidak ada disaat perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan dan pasti selalu turut disajikan. Kudapan khas Bali ini banyak dijual bebas berbahan dasar ketan dan tepung beras tanpa harus menunggu ada di hari-hari tertentu.

Ada dua macam, tergantung cara membuatnya. Misalnya untuk jajanan kering, biasanya kukusan ketan dan tepung beras akan dipipihkan. Cara memasaknya juga tidak sulit. Jaje uli biasanya dibeli dan dimakan sebagai cemilan teman minum teh atau kopi.

5. Buah.

Tidak ada peraturan paten mengenai buah yang biasanya disajikan untuk sesajen. Buah menjadi simbol rasa syukur terhadap Tuhan tapi pada zaman dahulu buah yang dipersembahkan buah hasil bumi. Adapun buah yang kini sering dijadikan sesajen antara lain jeruk, apel, mangga, manggis, salak, jambu, pisang, dan anggur.

Terdapat makna di balik buah tersebut hingga populer di kalangan umat Hindu-Bali. Misalnya seperti pisang yang memiliki keistimewaan tidak akan mati sebelum berbuah. Memiliki kata “sang” yang memiliki arti dihormati. Tidak heran kalau banyak umat Hindu yang memiliki pohon pisang.

6. Daging Babi

Sehari sebelum Hari Raya Galungan disebut dengan Penampahan. Saat Penampahan ini, umat Hindu akan memotong hewan berupa babi walaupun ada yang memotong ayam. Pemotongan daging babi merupakan tradisi turun menurun setiap jelang Hari Raya Galungan dan Kuningan. Tidak heran bila para peternak babi panen setiap kali perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Saat memotong babi, secara bergotong royong warga akan membersihkan hingga membagi daging babi yang juga bisa disebut dengan Mepatung. Nantinya daging babi akan diolah menjadi aneka sarana upakara dan juga hidangan seperti lawar, sate, komoh, balung, timbungan, maupun urutan yang tahan sampai 10 hari disaat perayaan Hari Raya Kuningan.

7. Dodol

Dodol di Bali biasanya dibuat menggunakan injin atau ketan hitam sehingga warna dodol tersebut menjadi hitam.Akan tetapi, saat ini sudah banyak dijumpai dodol warna-warni dengan varian rasa yang juga bervariasi. Namun yang menjadi ciri khas dodol yaitu rasanya yang manis dan kenyal.

Ketika Hari Raya Galungan, dodol ini merupakan salah satu jenis jajanan Bali yang digunakan sebagai sarana membuat banten.
Di Bali, ada dodol yang sangat terkenal yaitu Dodol Penglatan yang memiliki warna dan rasa bervariasi dan dapat dijumpai di wilayah Tejakula, Buleleng di sepanjang jalur Singaraja-Karangasem karena di wilayah ini dodol adalah sentra industri.

8. Gantungan dan lamak.

Saat Hari Raya Galungan juga ada lamak dan gantungan. Lamak dan gantungan adalah hiasan yang dibuat dengan bahan janur dan ron (daun enau yang berwarna hijau) yang didesain sedemikian rupa lalu dijarit memakai lidi daun kelapa. Gantungan dan lamak juga dijual, sehingga tidak mempersulit persiapan yang luar biasa.

Tradisi Gantungan dan lamak ini juga turun menurun dilakukan. Gantungan dan Lamak dipasang pada setiap pelinggih di rumah dan pura sehingga semua pelinggih di setiap rumah dan tempat ibadah menjadi cantik dan menawan siap menyambut kedatangan dewa-dewa dan para leluhur yang berkunjung.

9. Ngejot.

Ngejot berarti memberi atau berbagi pada orang lain. Tradisi ini biasanya dilakukan menjelang Hari Raya Galungan hingga pada Hari Raya Galungan tiba. Biasanya yang di-jot-kan berupa buah, jajan, maupun olahan daging saat penampahan.

Tradisi ini juga semakin mempererat persaudaraan dengan keluarga dan tetangga. Selain ngejot kepada sesama, di daerah Buleleng ada tradisi ngejot punjung namanya, yaitu berkunjung ke setra (kuburan) saat Galungan. Ngejot punjung ini dilakukan dengan membawa sodaan/bantenan ke makam keluarga di setra.

10. Tradisi Pulang Kampung.

Bukan hanya Hari Raya Idul Fitri umat Islam tradisi mudik terjadi meski dengan jumlah yang tidak banyak. Faktanya umat Hindu juga melakukan hal yang sama saat menyambut perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan yaitu tradisi pulang kampung.

Bagi para perantau, saat Galungan jika ada bekal biasanya akan pulang kampung untuk Megalung (merayakan Galungan) bersama keluarganya. Biasanya mereka akan pulang kampung saat perayaan Galungan. Yang tinggal dan bekerja di Kuta bila kampungnya di Singaraja, maka balik pulang ke Singaraja. Usai sembahyang pada Hari Raya Galungan, mereka akan melakukan silaturahmi atau berkunjung ke rumah kerabat.

Demikian fakta-fakta tradisi unik dan menarik berkaitan dengan penyambutan dan perayaan Hari Raya Galungan dan Hari Raya Kuningan oleh umat Hindu di Bali yang sesungguhnya antara keduanya berbeda, di samping tradisi membeli kebaya, kamen (kain), udeng dan pakaian baru yang berwarna putih bercampur kuning dan dekorasi lainnya.

Hari Raya Kuningan dirayakan 10 hari sesudah Hari Raya Galungan sebagai hari penyambutan dewa-dewa dan roh leluhur yang suci dari surga sementara Hari Raya Kuningan hari dimana dewa-dewa dan roh leluhur kembali lagi ke surga. (Nm)


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Kenyataannya Hari Raya Galungan Berbeda Dengan Hari Raya Kuningan

Natamagazine.co – Hari Raya Galungan dengan Hari Raya Kuningan itu tidak sama. Antara Hari Raya ...

Translate »