10 Jenis Kain Tradisional Indonesia Yang Sudah “Go International” dan Kain Ulos Salah Satunya.

Natamagazine.co – Bangga kata yang tepat menggambarkan betapa warisan nenek moyang bangsa Indonesia terhadap seni budaya dan peninggalan sejarah yang saat ini bisa dinikmati sungguh sangat luar biasa sebagai identitas bangsa. Apakah dapat terus lestari dan bertahan hingga ke generasi berikutnya? Tak ada yang dapat memprediksikan mengingat arus informasi teknologi semakin mendominasi. Jika warisan budaya sampai hilang dan tak diteruskan entah apa yang terjadi, pastinya sangat memilukan.

Dan kain salah satu dari warisan budaya yang dimaksud yang keberadaannya mulai tergeser dengan gaya hidup dan perkembangan jaman serta ketersediaan bahan alami. Di Indonesia yang memiliki ratusan suku yang terdapat dari Sabang sampai Merauke, jenis kain terbilang banyak. Setiap daerah biasanya memiliki kain khasnya masing-masing. Inilah salah satu bukti kalau budaya Indonesia begitu kaya.

Seiring kemajuan dan perkembangan mode dan jaman, kain tidak lagi hanya sebagai perlengkapan upacara dan busana tradisional tetapi kini menjadi berbagai jenis bentuk pakaian seperti kemeja, rok dan sebagainya. Aneka produk fesyen juga sudah mengaplikasikan berbagai jenis kain tersebut dan mendunia bahkan seperti kain batik oleh UNESCO disahkan sebagai warisan dunia.

Berikut 10 jenis kain tradisional asli Indonesia yang telah mendunia yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber yang membuat bangga dan tampil percaya diri saat memakainya.

1. Kain Sutra Bugis

Kokon atau ulat sutra adalah bahan baku untuk pembuatan benangnya, sehingga tercipta kain tenun khas Bugis. Sarung sutra dulunya hanya dikenakan untuk padanan baju bodo yang merupakan pakaian tradisional masyarakat Sulawesi Selatan. Keunikannya terlihat pada motif kotak-kotak yang berlainan. Perbedaan ukuran kotanya juga memiliki arti berbeda pula. Motif kotak sesungguhnya sebagai penanda pemakainya masih lajang atau sudah menikah.

Motif Ballo Renni ditandai dengan kotak kecil berwarna cerah. Wanita lajang biasanya yang mengenakannya. Sedangkan motif Balo Lobang yang memiliki ukuran lebih besar berwarna merah keemasan atau merah terang. Motif tersebut diperuntukkan bagi pria Bugis yang masih lajang. Masih banyak juga motif khas kain Bugis ini, yang disertai dengan keistimewaan masing-masing.

2. Kain Tenun Dayak

Menenun adalah aktivitas para wanita Suku Dayak di Pulau Kalimantan saat waktu luang, biasanya dilakukan sesudah beraktivitas di ladang. Gedok adalah nama alat untuk pembuatan tenun khas Dayak. Proses pembuatannya relatif lama, karena setidaknya memerlukan waktu hingga tiga bulan. Untuk cara pewarnaannya masih mengaplikasikan bahan pewarna alami.

Motif flora dan fauna yang terdapat di kawasan sekitarnya merupakan motif yang ditonjolkan pada kain tenunnya. Sehingga sangat terlihat ciri khas dari Pulau Kalimantan. Sejumlah tenun dayak yang dihasilkan, seperti Sungket bermotif garis tegas dan besar, Sidan berwarna cerah dan terang, dan Kebat bermotif alam atau asimetris. Ketiga motif kain tersebut biasanya dikenakan oleh Suku Dayak Iban yang berada di Kalimantan Barat.

3. Kain Besurek

Bengkulu adalah daerah yang menghasilkan kain tradisional ini. Arti dari Besurek adalah bertuliskan atau bersurat. Penamaan kain tersebut disebabkan motifnya menampilkan kaligrafi atau huruf arab gundul. Oleh karena motif tersebut sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Islam.

Motif tersebut yang membedakan kain besurek dengan kain batik Jawa. Tetapi kalau diperhatikan dari teknik pembuatannya sama dengan kain batik Jawa. Sedangkan untuk pewarnaannya lebih mengandalkan warna yang beragam dan lebih cerah. Kain Bersurek berasal dari Bengkulu.

4. Kain Tapis

Kain tradisional tapis berasal dari Lampung dan dikerjakan dengan peralatan tradisional sebagai sarana menyulam kain tapis. Para gadis di Lampung menyulam kain di rumahnya masing-masing. Waktu pengerjaannya biasanya memerlukan beberapa bulan lamanya. Hasil kainnya biasanya mencerminkan kepribadian dari pembuatnya.

Kain tapis tersusun dari kain berwarna gelap. Warna gelap tersebut dihasilkan dari bahan pewarna alami. Kemudian setelah proses itu barulah diterapkan proses penyulaman dengan benang emas. Pada umumnya tapis tampil dengan motif flora, fauna, piramida dan zigzag.

5. Kain Sasirangan

Kain tradisional ini dibuat oleh suku Banjar yang bermukim di Provinsi Kalimantan Selatan. Sirang adalah asal muasal kata Sasirangan. Arti dari kata tersebut adalah dijahit dengan tangan dan dijelujurkan benangnya. Bahan dasar berupa kain katun atau mori, selanjutnya digambari aneka motif khas. Kemudian disirang atau dijelujur sesuai motif yang telah dibuatnya.

Keunikan dari kain tradisional ini terlihat pada coraknya yang menampilkan khas alam dan budaya Kalimantan. Sedikitnya terdapat 30 motif sasirangan yang sangat digemari oleh warga setempat dan wisatawan. Beberapa diantaranya adalah motif daun taruju, kulat ka rikit, naga balimbur, bayam raja dan sebagainya. Kampung Sasirangan di Kecamatan Banjarmasin Tengah merupakan sentra pembuatan kain khas tersebut.

6. Kain Songket

Kain tradisional Indonesia ini dibuat oleh masyarakat Minangkabau dan Melayu. Songket ini termasuk dalam jenis tenunan brokat. Kain ditenun memakai tangan menggunakan benang perak dan benang emas. Istilah sungkit adalah asal muasal sebutan kain songket. Menurut bahasa Melayu, arti kata tersebut adalah mengait. Penyebutannya sesuai dengan teknik pembuatannya, yakni dengan cara dikaitkan serta mengambil sejumput kain tenunnya.

Sesudah itu barulah menyelipkan benang emasnya. Songket juga tampil dengan beragam motif tradisional yang menjadi ciri khas budaya warga setempat. Sejumlah motif terpopuler adalah barantai merah, barantai putiah, buah palo, dan saik kalamai. Selain itu masih banyak lagi motif songket yang belum dipatenkan secara resmi.

7. Kain Gringsing

Kain tradisional ini dibuat oleh masyarakat Tenganan, Bali. Teknik dobel ikat diaplikasikan dalam proses pembuatan kain gringsing. Sehingga tercatat sebagai satu-satunya kain khas asal Indonesia yang mengusung metode tersebut. Semua proses pembuatannya dikerjakan secara manual menggunakan tenaga manusia. Setidaknya diperlukan waktu selama 2-5 tahun untuk menghasilkan kain gringsing.

Istilah gringsing berasal dari bahasa Bali, yanki gring berarti sakit dan sing berarti tidak. Sehingga makna kata gringsing layaknya penolak bala dan bisa menyembuhkan penyakit. Masyarakat setempat sangat percaya kalau asal muasal kain ini berasal dari kekaguman Dewa Indra terhadap keindahan langit saat malam hari. Karena itu Dewa Indra mengajari para wanita agar bisa menguasai metode penenunan kain gringsing. Motif kain ini menampilkan keindahan langit berupa matahari, bulan dan hamparan bintang.

8. Tenun Ikat

Kain tradisional ini diproses dengan cara ditenun dari berbagai helaian benang pakan. Sebelumnya benang ini diikat kemudian diterapkan zat pewarna alami. Benang akan diikat menggunakan tali berdasarkan coraknya sebelum ditenun. Cara ini untuk memudahkan dalam pencelupan sebagian benang tersebut. Biasanya bagian benang yang terikat tali tidak akan diwarnai.

Alat tenun tanpa mesin merupakan peralatan khusus yang digunakan untuk menghasilkan tenun ikat. Sejumlah daerah di Indonesia yang dikenal memproduksi kain khas ini adalah Timor, Flores, Sumba, Sumbawa, Lombok, Bali, Jepara, Sintang dan Toraja.

9. Kain Ulos

Ingat ulos yang terpikirkan pasti masyarakat suku Batak. Masyarakat Batak di Sumatera Utara yang mengembangkan kain khas unik ini. Penenunan adalah metode yang diterapkan untuk menghasilkan kain ulos. Penggunaan kain ini hampir di setiap kesempatan masyarakat Batak, seperti saat dukacita, kelahiran, pernikahan dan sebagainya. Kain ini juga biasanya diberikan untuk ibu hamil, sebagai pelindung dari segala bencana serta melancarkan persalinan.

Kehangatan dianggap sebagai unsur penting dalam kehidupan nenek moyang masyarakat Batak. Sedangkan mengenakan kain ulos bisa memberikan kehangatan. Berbagai warna yang mendominasi adalah putih, hitam dan merah. Selain itu dihiasi juga dengan benang berwarna perak dan emas. Sejumlah ulos tercatat sudah punah, seperti ulos sibolang, ulos saput, ulos gobar, ulos ragi botik, dan ulos raja.

10. Kain Batik

Pembuatan batik tulis dengan menggunakan kain mori, kemudian di gambar memakai lilin yang berada dicanting. Corak dan motifnya sangat cantik, dan melambangkan makna tersendiri. Sangat banyak jenis batik sesuai dengan daerah penghasilnya, seperti Batik Bali, Batik Banyumasan, Batik Tegal, Batik Cirebon, Batik Pekalongan, Batik Solo, Batik Jogja, Batik Surabaya dan sebagainya.

Hal menarik tentang batik adalah oleh UNESCO disahkan sebagai warisan dunia yang berasal dari Indonesia. Berikutnya adalah segala hal yang menyangkut kain batik selain tulis dan cap yang melalui proses lilin malam bukan kategori kain batik. Proses lilin malam bertujuan menahan warna agar tidak masuk ke serat kain

Inilah sepuluh kain tradisional Indonesia yang sudah mendunia yang di beberapa pagelaran internasional sudah mulai dikenal dan dipakai selebriti dunia. Sudahkah memiliki diantaranya? Sebenarnya masih banyak lagi jenis kain khas lainnya yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Lengkapi koleksinya sebagai bagian dari cara melestarikan budaya bangsa Indonesia dan jangan malu menjadikannya sebagai busana sehari-hari. (Nm)


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Suka Cita Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah Menyambut Baik Kehadiran Perkumpulan Pengusaha Hotel dan Restoran Indonesia (PPHRI) di Indonesia

Natamagazine.co – Hal ini disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ida Fauziyah di Four Point Medan ...

Translate »