10 Gejala Virus Corona Baru, Sakit Mata dan Cegukan Dua Diantara Gejala

Natamagazine.co – Pandemi COVID-19 belum usaii dan korban akibat virus ini semakin bertambah dan Indonesia termasuk negara di asia yang terparah dalam penanganan COVID-19. Masyarakat baik secara sadar maupun tidak sadar diharapkan selalu waspada dan membantu pemerintah dalam memutus penyebarannya dengan tetap menjalankan protokoler kesehatan sesuai ketentuan mengingat saat ini COVID-19 bermutasi dan penyebarannya sangat cepat.

Adanya mutasi memunculkan berbagai gejala virus Corona baru. Jika sebelumnya gejala yang dikenal hanya demam dan sesak napas, kini berbagai keluhan sehari-hari seperti cegukan dan gangguan penciuman juga bisa jadi gejala.

Misteri di balik Virus Corona COVID-19 jadi makin banyak yang perlu terungkap. Salah satunya bahwa sejumlah pasien yang mengidap penyakit tersebut bisa mengalami gejala Virus Corona COVID-19 yang berbeda-beda bahkan sampai tanpa gejala.

Gejala Virus Corona baru yang ditemukan adalah cegukan terus-menerus. Dikutip dari laman Express, beberapa studi menemukan bahwa cegukan secara terus-menerus mungkin mengindikasikan gejala COVID-19 yang langka dan tidak biasa. Pada studi 2020 menemukan seorang pria yang berusia 64 tahun yang cegukan terus-menerus sebagai satu-satunya gejala baru Virus Corona.

Orang yang diamati dalam studi tersebut mengunjungi klinik setelah mengalami cegukan selama 72 jam. Tes darah dan paru-paru menunjukkan adanya infeksi paru-paru dan jumlah sel darah putih yang rendah. Ia pun dinyatakan positif COVID-19.

Cegukan terus menerus merupakan salah satu gejala yang dialami pasien Corona selain batuk, demam, sesak napas, muntah, diare dan sakit tenggorokan. Dikutip dari berbagai sumber, berikut sejumlah gejala virus Corona baru yang perlu diwaspadai.

1. Sakit mata

Gejala Virus Corona baru yang dilaporkan belum lama ini adalah sakit mata. Sebuah studi dari Anglia Ruskin University (ARU), Inggris, menemukan sebanyak 18 persen pasien Corona mengalami fotofobia (sensitivitas cahaya) sebagai salah satu gejalanya.

Dari 83 responden, 81 persen melaporkan masalah mata dalam dua minggu setelah gejala COVID-19 lainnya muncul. Dari jumlah tersebut, 80 persen melaporkan masalah mata mereka berlangsung kurang dari dua minggu.

“Ini adalah studi pertama yang menyelidiki berbagai gejala mata yang mengindikasikan konjungtivitis dalam kaitannya dengan COVID-19, kerangka waktunya dalam kaitannya dengan gejala COVID-19 yang diketahui dan durasinya,” jelas penulis utama Profesor Shahina Pardhan, Direktur Vision and Eye Research Institute di ARU.

2. Delirium

Delirium merupakan gejala mental yang membuat penderitanya mengalami kebingungan berat dengan kesadaran yang berkurang akibat terganggunya sistem saraf pusat. Gejala COVID-19 ini umumnya muncul pada kelompok lanjut usia (lansia).

“Delirium adalah keadaan kebingungan di mana seseorang merasa tidak terhubung dengan kenyataan, seolah sedang bermimpi,” kata peneliti dari University of Catalonia, Javier Correa.

3. Kelelahan dan nyeri otot

Berdasarkan studi yang telah diterbitkan di JAMA (Journal of the American Medical Association), kelelahan merupakan salah satu gejala COVID-19 yang dapat bertahan lama setelah seseorang terinfeksi virus Corona.Studi ini menemukan, sebanyak 53 persen pasien Corona mengalami kelelahan selama sekitar 60 hari setelah pertama kali mengalami gejala COVID-19.

Penelitian yang diterbitkan di the journal Annals of Clinical and Translational Neurology menemukan bahwa 44,8 persen relawan yang berpartisipasi mengalami nyeri otot akibat COVID-19. Rasa nyeri ini mungkin disebabkan karena peradangan yang terjadi di dalam tubuh akibat infeksi virus Corona. Selain itu, para pasien Corona yang sudah sembuh juga bisa mengalami nyeri otot.

4. Hilang indra penciuman dan perasa

Kehilangan indra penciuman dan perasa merupakan salah satu gejala COVID-19 yang kerap kali dirasakan pasien Corona. Butuh waktu hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan agar fungsi indra tersebut pulih kembali. Beberapa pasien yang menderita gejala virus Corona baru ini seringkali membutuhkan perawatan dan terapi seperti pelatihan penciuman. Ini dilakukan untuk ‘memperbaiki’ otak agar secara akurat bisa mengenali rasa, bau, dan aroma yang tepat seperti sebelumnya.

Gejala Virus Corona baru yang ditemukan ini disebut parosmia atau distorsi penciuman. Dikutip dari laman Healthline, parosmia merupakan suatu kondisi terganggunya indra penciuman. Parosmia bisa menyebabkan penderitanya mengalami ‘halusinasi penciuman’. Misalnya seperti bau yang harum mungkin akan tercium busuk.

Kondisi ini pun dialami oleh sejumlah pasien COVID-19. Seorang ahli bedah telinga dan tenggorokan (THT), Profesor Nirmal Kumar, mengatakan bahwa gejala COVID-19 yang satu ini sangatlah aneh dan unik. Ia menjelaskan, gejala parosmia yang dialami kedua pasiennya akibat COVID-19.

“Kami menyebutnya virus neurotropik. Artinya, virus ini mempengaruhi saraf di atap hidung, seperti gangguan pada sistem saraf, dan saraf tidak berfungsi,” lanjutnya.

5. Masalah pencernaan, dan muntah

Menurut studi, masalah pencernaan yang diakibatkan oleh infeksi virus Corona bisa berupa diare dan muntah-muntah. Umumnya, pasien Corona yang mengalami masalah pencernaan juga disertai dengan gejala COVID-19 lainnya.

Diketahui, hanya 4 persen orang yang didiagnosis positif COVID-19 karena muntah dan diare sebagai gejala tunggal tanpa gejala penyerta.

6. Ruam kulit

Dokter kulit dari DNI Skin Centre, Dr dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK(K), FINSDV, FAADV, mengatakan bahwa infeksi virus Corona bisa menyebabkan ruam kulit. Namun, ruam kulitnya cenderung bersifat ringan dan tidak berisiko fatal.

“Kemungkinan muncul ruam pada pasien COVID itu bervariasi risikonya sekitar 0,2-20 persen,” jelas dr Darma.

7. Sakit kepala berulang

Dikutip dari Cosmopolitan, ahli jantung dari London, Dr Dominic Pimenta, mengatakan bahwa sebanyak 70 persen pasien Corona kerap mengalami sakit kepala.

Meski sakit kepala bukanlah gejala utama dari COVID-19, namun apabila kamu kerap merasakan sakit kepala yang berulang, maka itu bisa menjadi pertanda kamu sudah terinfeksi virus Corona.

Apabila seperti itu, ada baiknya kamu segera melakukan tes Corona untuk mengecek apakah kamu sedang terinfeksi virus Corona atau tidak.

8. Kadang merasa sesak

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal JAMA menemukan bahwa gejala sesak napas akibat infeksi virus Corona dapat bertahan lama. Kemungkinan ini disebabkan oleh adanya peradangan yang berlangsung cukup lama di paru-paru.

“Kalau sudah begini, mungkin penyakit yang kamu alami sebelumnya adalah COVID,” kata Schaffner.

9. Batuk tidak sembuh dan flu parah

Batuk yang berkepanjangan merupakan salah satu gejala COVID-19 yang dilaporkan oleh sejumlah pasien Corona yang berpartisipasi dalam penelitian JAMA. Batuk yang terjadi adalah batuk kering, artinya, tidak ada dahak atau lendir. Selain itu, data dari CDC menunjukkan bahwa 43 persen pasien Corona mengalami batuk 14-21 hari setelah terinfeksi virus. Dikutip dari Prevention, sebuah studi dari University of Texas menemukan bahwa setiap dua kasus flu di Amerika Serikat (AS), ada satu kasus COVID-19.

Dalam penelitian ini, para peneliti menganalisis hasil swab orang yang dicurigai memiliki flu pada musim dingin akhir tahun 2019 di AS. Hasilnya, ditemukan setiap dua kasus flu, ada satu kasus COVID-19. Para peneliti pun meyakini bahwa COVID-19 kemungkinan sudah menyebar di AS pada akhir tahun lalu. Meski begitu, Dr William Schaffner, MD, spesialis penyakit menular dari Vanderbilt University School of Medicine mengatakan bahwa sulit untuk membedakan flu dan COVID-10 tanpa melakukan tes. Namun, flu biasanya tidak menyebabkan sesak napas, sakit kepala, atau gejala gastrointestinal.

10. Rambut rontok yang tak bisa dijelaskan

Anggota dari Survivor Corps (grup dukungan di Facebook untuk orang-orang yang terjangkit COVID-19) berbicara tentang mengalami rambut rontok selama berbulan-bulan usai pulih dari infeksi virus Corona.

Rambut rontok ini disebabkan oleh kondisi yang dikenal sebagai telogen effluvium dan dapat disebabkan oleh banyak faktor, termasuk kehamilan, stres yang ekstrem, penurunan berat badan, dan penyakit selain COVID-19.

Namun demikian rambut yang rontok tak bisa menjadi pertanda seseorang sudah terinfeksi virus Corona apabila tidak disertai dengan gejala COVID-19 lainnya, seperti batuk atau demam. (Nm)


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Hanya BNSP-LSP Satu-satunya Lembaga Sah Pemberi Sertifikasi Kewartawanan di Indonesia

Natamagazine.co – Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pers Indonesia ...

Translate »