10 Bangunan Heritage Medan, Saksi Bersejarah Peradaban Masa Lalu

Natamagazine.co – Kota Medan dahulu adalah sebuah kampung yang didirikan oleh Guru Patimpus di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Hari jadi Kota Medan ditetapkan pada tanggal 1 Juli 1590. Pada tahun 1632, Medan dijadikan pusat pemerintahan Kesultanan Deli, sebuah kerajaan Melayu. Bangsa Eropa menemukan Medan sejak kedatangan John Anderson dari Inggris pada tahun 1823.

Peradaban di Medan terus berkembang hingga pemerintah Hindia Belanda memberikan status kota dan menjadikannya pusat pemerintahan Karesidenan Sumatera Timur. Memasuki abad ke-20, Medan menjadi kota yang penting di luar Jawa, terutama setelah pemerintah kolonial membuka perusahaan perkebunan secara besar-besaran. Sebagai akibat multiakulturasi peradaban yang hadir di kota Medan, banyak bangunan-bangunan bersejarah yang masih berdiri dengan baik dan difungsikan. Berikut beberapa bangunan bersejarah yang masih ada di kota medan.

1. Gedung London Sumatera (Lonsum)

Gedung London Sumatera di Kota Medan, Sumatera Utara didirikan pada tahun 1906. Pada masanya, gedung ini merupakan kantor dari perusahaan perkebunan milik Harrisons & Crossfield Plc, perusahaan perkebunan dan perdagangan yang berbasis di London. Oleh Harrisons & Crossfield gedung ini disebut dengan gedung Juliana yang berarsitektur bergaya transisi. Gaya tersebut terlihat dari bentuk gevel atau fasad depan yang menjadi ciri rumah-rumah yang menghadap sungai di Eropa pada transisi akhir abad 19.

Setelah Indonesia merdeka kepemilikan Harrisons & Crossfield Plc akhirnya dinasionalisasi dan berubah menjadi PT. PP London Sumatera Indonesia (Lonsum). Perubahan kepemilikan tersebut tidak berpengaruh pada perubahan fisik maupun fungsi dari Gedung London Medan. Hingga kini, Gedung London Medan masih digunakan sebagai pusat dari Lonsum. Oleh karena itu Badan Warisan Sumatera (BWS) menggolongkan Gedung London Medan tersebut sebagai benda cagar budaya.

2. Kantor Pos

Berlokasi di Jalan Balai Kota Medan tepatnya menghadap ke Lapangan Merdeka Medan (dulunya disebut esplanade), tidak jauh dari Gedung Lonsum, yang merupakan bangunan sejarah peninggalan zaman kolonial Belanda. Lokasi ini juga disebut sebagai “Titik Nol” Kota Medan. Yang artinya dari sinilah diukur jarak kilometer Pusat kota Medan ke seluruh lokasi Kota Medan dan Kota lain disekitarnya.

Bangunan ini dibangun pada tahun 1909-1911 oleh seorang arsitek bernama Snuyf yang dulu merupakan Direktur Jawatan Pekerjaan Umum Belanda untuk Indonesia pada masa Pemerintahan Belanda dengan nilai sejarah, nilai estetis, nilai sosial, nilai fungsional, dan juga nilai struktural yang tinggi. Itu sebabnya bangunan ini termasuk bangunan cagar budaya yang dilindungi oleh Pemerintah Kota Medan dalam bentuk Peraturan Daerah.

3. Masjid Raya Al-Mashun

Terletak di Jalan Sisingamangaraja, meski usianya hampir 100 tahun atau seabad, namun bangunan dan berbagai ornamennya, bentuk bangunan, gaya arsitektur, kubah, menara, pilar utama masih tetap utuh. Peninggalan kerajaan Islam Melayu Deli yang kini menjadi ikon kota Medan ini juga menjadi kebanggaan umat Islam Medan dan Sumut, bahkan menjadi salah satu keunikan sejarah Islam masyarakat Melayu di Sumatera maupun di Malaysia.

Masjid ini dirancang dengan perpaduan gaya arsitektur Timur Tengah, India dan Eropa abad 18. Merupakan salah satu peninggalan Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alam, Sultan ke-9 Kerajaan Melayu Deli yang berkuasa pada 1873-1924. Masjid Raya Al-Mashun sendiri dibangun tahun 1906 di atas lahan seluas 18.000 meter persegi, dan dapat menampung sekitar 1.500 jamaah dan digunakan pertama kalinya pada hari Jum’at 25 Sya’ban 1329 H (10 September 1909).

4. Tjong A Fie Mansion

Tjong A Fie adalah tokoh multikulturisme yang banyak berjasa membangun Kota Medan. Tjong A Fie dilahirkan di Provinsi Guandong, Kabupaten Maizen, di Desa Sukaou, Tiongkok, pada 1860 lalu. Datang ke Medan dari Meixian, Guandong, pada 1875. Rumah Tjong A Fie merupakan gedung bergaya Tiongkok kuno yang dibangun pada tahun 1900, lokasinya terletak di jalan Ahmad Yani (Kesawan). Beliau adalah jutawan pertama di Sumatera yang namanya sangat populer sampai sekarang walaupun sudah wafat pada tahun 1921.

Kesuksesannya berkat usaha dan hubungan baiknya dengan para pembesar perkebunan tembakau Belanda dan Sultan Deli Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah dan Tuanku Raja Muda yang membuka jalan baginya untuk menjalankan usaha konsesi penyediaan atap daun nipah untuk keperluan perkebunan tembakau dan pembuatan bangsal. Hingga saat ini rumah tersebut masih ditempati keluarga Tjong A Fie.

5. Istana Maimun

Lokasi istana Maimun tidak jauh dari Masjid Raya Al Mashun. Berada di Jalan Brigjend. Katamso, Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara. Istana ini dibangun pada tahun 1888 oleh Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang memerintah dari tahun 1873-1924. Dahulu, Istana Maimun tidak hanya menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Deli saja, tapi juga sebagai pusat adat dan budaya Melayu, tempat bermusyawarah antar masyarakat dan pusat dakwah Islam.

Berarsitektur Melayu dan bercorak Eropa, Istana Maimun menjadi simbol kemajuan dan kemakmuran ekonomi, dan pluralisme budaya pada masa pemerintahan Kesultanan Deli. Istana Maimun bukanlah satu-satunya istana di lingkungan Kesultanan Deli, namun keberadaan istana-istana yang lain sudah tidak terlihat lagi. Di halaman Istana Maimun terdapat Meriam Puntung yang merupakan bagian dari Legenda Istana Maimun.

6. Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia Medan berlokasi di Jalan Balai Kota No. 4 Medan. Masih berdiri kokoh sejak dibangun pada tahun 1906 oleh perusahaan arsitek asal Belanda tapi berkantor di Jakarta (saat itu namanya masih Batavia). Arsitek yang merancang bangunan unik dalam waktu setahun ini adalah Hulswit, Fermost dan Cuypers. Tahun 1907, gedung digunakan sebagai pusat perbankan Belanda dengan nama De Javasche Bank Medan dan dipimpin oleh L. Vonhemert.

Pada tahun 1951, seluruh gedung peninggalan Belanda di nasionalisasikan oleh bapak presiden Soekarno. Seluruh aset peninggalan Belanda diambil alih dan dijadikan milik negara termasuk Gedung Bank Indonesia Medan. Dahulu terdapat jam besar di depan gedung cuma sayang jam besar asli Belanda itu kini tak ada lagi berganti logo Bank Indonesia yang lumayan besar.

7. Vihara Gunung Timur

Vihara Gunung Timur adalah kelenteng Tionghoa (Taoisme) yang terbesar dan tertua di Kota Medan dan mungkin juga di pulau Sumatera. Vihara Gunung Timur ini dibangun pada tahun 1930-an dan hingga kini masih berdiri di Jalan Hang Tuah No. 16, Kelurahan Madras Hulu Kecamatan Medan Polonia di pinggir Sungai Babura Medan.

Bangunannya sangat kental dengan arsitektur Tionghoa yang didominasi warna merah menyala berpadu kuning emas dengan banyak patung dewa-dewi kepercayaan Tionghoa. Dulunya, vihara ini dibangun sangat sederhana. Hanya dari kayu beratapkan rumbia. Namun, semenjak adanya donasi dari banyak donatur, bangunan vihara ini telah direnovasi menjadi permanen seperti saat ini.

8. Menara Air Tirtanadi

Menara Air Tirtanadi merupakan salah satu ikon kota Medan. Menara air ini dulunya milik pemerintahan kolonial Belanda yang bernama NV. Water Leiding Maatschappij Ajer Beresih yang berdiri pada tahun 1905. Menara Air ini selesai dibangun pada tahun 1908 dan sekarang menjadi milik PDAM Tirtanadi. Fungsinya untuk mensuplai kebutuhan air bersih para penduduk yang sampai sekarang masih tetap digunakan.

Menara Air Tirtanadi ini berlokasi di Jalan Sisingamangaraja Medan dan dahulu pada jaman Hindia Belanda berfungsi juga sebagai Landmark Medan dan masih hingga kini sebagai bangunan menara air milik Perusahaan Air Minum Daerah Tirtanadi. Tapi sayang banyaknya gedung di sekeliling Menara Air Tirtanadi menutupi kemegahan bangunan ini sehingga sulit untuk mengabadikan momen.

9. Kuil Shri Mariamman

Kuil yang dibangun pada tahun 1884 ini adalah kuil Hindu tertua di Kota Medan. Dibangun untuk pemujaan terhadap Dewi Durga atau Dewi Kali. Kuil Shri Mariamman berada di Jalan Zainul Arifin Medan, di kawasan yang dikenal sebagai Kampung Keling atau sekarang Kampung Madras dan juga pusat kuliner Pagaruyung.

Pintu gerbangnya dihiasi sebuah gopuram, yaitu menara bertingkat yang biasanya dapat ditemukan di pintu gerbang kuil-kuil Hindu dari India Selatan atau semacam gapura dengan aneka ragam ornamen dan patung-patung dewa-dewi. Terdapat lima dewa, yaitu Dewa Siwa, Wisnu, Ganesha, Dewi Durga (Kali), dan Dewi Aman yang dipuja di kuil ini.

10. Gereja Katedral Santa Maria

Berdiri pada tahun 1879 berupa sebuah gubuk beratap daun rumbia dan ijuk tempat beribadat puluhan umat Katolik yang mayoritas adalah India-Tamil dan Belanda. Berada di Jalan Pemuda No 1 Medan, dulu Jalan Istana. Karena melihat perkembangan jumlah jamaah, maka pada tahun 1884 dilakukan pembangunan dengan dinding batu, beratap seng dan sebagian masih beratap daun rumbia dan ijuk.

Pembangunan gereja dilanjutkan tahun 1905, diprakarsai oleh para Pastor Ordo Jesuit yang bekerja di Medan. Perluasan dan pembangunan permanen dilakukan tahun 1928 oleh arsitek Belanda yang bernama Han Groenewegen dan dilaksanakan oleh Langereis. Hasil dari rancangan mereka dapat dilihat saat ini sebagai salah satu bangunan tua bersejarah dan bernilai arsitek yang tinggi. Sebutan lengkap dan resmi untuk Gereja Katedral itu kini adalah Gereja Katolik Santa Maria Tak Bernoda Asal–Katedral Medan.

Itulah beberapa daftar gedung-gedung bersejarah yang terdapat di Kota Medan yang masih tegak dan kokoh berdiri serta terawat. Sesungguhnya masih banyak lagi gedung lainnya seperti,

Gedung GPIB Immanuel Medan, dulu disebut Gereja Ambon, berada di Jalan Dipenogoro No. 25-27. Mulai dibangun pada 12 Oktober 1921, dahulu digunakan sebagai tempat beribadah agama Kristen Protestan dibawah naungan Indische Kerk atau Staatskrer, dan pada kedudukan Jepang dijadikan gudang. Setelah Perang Dunia ke II gedung ini dijadikan tempat peribadatan jemaat Gereja Anglika.

Lalu ada Gedung Balai Kota Lama Gedung Balai Kota Lama yang berarsitektur eropa. Masih berdiri hingga sekarang di tengah gedung-gedung bertingkat di kota Medan yang menjadi daya tarik hotel yang juga berdiri megah dibelakangnya. Gedung yang berada tepat di depan Merdeka Walk ini dibangun pada tahun 1906 oleh arsitek bernama Hulswit.

Selanjutnya yang tak kalah megah berdiri adalah Gedung Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) yang berada di Jalan Brigjend. Katamso tidak jauh dari Istana Maimun. Sebelum menjadi PPKS, lembaga penelitian perkebunan pertama di Sumatra tersebut bernama APA (Algemeene Proefstation der AVROS/Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatra) yang didirikan pada 26 September 1916.

Dan sebuah hotel yang pada jaman dahulu dikenal dengan nama De Boer, berdiri pada tahun 1898 oleh seorang Belanda bernama Aeint Herman De Boer. Dimanakah itu? Adalah Grand Inna Medan itu sekarang dan masih banyak lagi lainnya, termasuk Titi Gantung yang dibangun tahun 1885 oleh Kolonial Belanda. (Nm).


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Tidak Usah Jauh Berwisata ke Pulau Bali, Cukup ke Kampung Bali, Langkat saja

Natamagazine.co – Sumatera Utara terkenal provinsi yang memiliki aneka ragam suku etnis budaya beragam. Tidak ...

Translate »