Jika Cibaduyut Bisa, Harusnya Usaha Sepatu Bunut Kisaran Yang Nyaris Terlupakan Juga Bisa

Natamagazine.co – Jauh sebelum UMKM seperti jamur di musim hujan seperti saat sekarang ini, sentra usaha pembuatan sepatu dan sandal Bunut sudah hadir meramaikan industri fesyen sepatu di Indonesia khususnya di Sumatera Utara. Terdapat di Kisaran, Kabupaten Asahan, Bunut pernah jaya di awal tahun 1980-an dengan pemasaran bisa menembus pasar di Eropa tapi banyak masyarakat yang tidak mengetahuinya. Tapi kini mulai terlupakan dan terpinggirkan.

Nama Bunut, diambil dari sebuah kelurahan yang berada di bagian barat kota Kisaran. Dahulu pernah ada sebuah pabrik karet yang menghasilkan tapak sepatu dan sandal berkualitas berbahan kulit. Kini, pabrik karet tersebut sudah puluhan tahun tutup. Namun, buruh yang pernah bekerja di pabrik itu meneruskan keahlian mereka membuat tapak sepatu dan sandal. Bahkan, bertahan hingga turun temurun.

Dulu di Bunut ini ada pabrik karet punya orang Amerika, yang salah satu usahanya bikin percetakan tapak sepatu dan sandal sekitar tahun 70-an. Pada masa itu, warga terberdayakan dengan kehadiran pabrik karet Uni Royal yang saat ini bernama PT Bakrie Sumatera Plantation (BSP) yang memproduksi tapak sepatu tersebut hingga akhirnya pabrik itu berhenti beroperasi.

Untuk diketahui, wilayah Kabupaten Asahan dan sekitarnya memang dahulu dikenal wilayah perkebunan sebagai salah penghasil karet terbaik di dunia pada masanya. Berbekal dari pengalaman itulah akhirnya yang membuat sebagian warga eks pabrik berinisiatif membuka gerai sepatu yang secara kualitas sangat baik.

Era kejayaan sepatu bunut ada pada tahun 80-an hingga awal tahun 2000-an. Pengerajin sepatu yang membuat lalu memasarkan sendiri produknya di rumah-rumah mereka. Lokasi kelurahan Bunut, tempat pemasaran sepatu ini juga berada strategis di pinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) jalur Timur menuju ke Kota Medan. Tapi dengan dibuka nya jalan tol baru, harapannya tak semakin membuat para pengerajin kehilangan mata pencaharian.

Saat ini produksi maupun penjualan sepatu yang dihasilkan butuh perhatian dari semua pihak termasuk pemerintah daerah dan masyarakat untuk promosi dan pemasaran, sebab produksinya semakin menurun apalagi akibat pandemi Covid-19. Untuk menjual sepasang sepatu mulai harga Rp 100 hingga Rp 500 ribu saja sangat sulit. Padahal bisa menerima tempahan sesuai model yang diinginkan dan tidak kalah dengan Cibaduyut, Bandung.

Kalau dahulu pengerajin hanya bisa membuat dua model sepatu, yaitu pantofel dan pansus. Kini sudah memiliki ketrampilan untuk membuat berbagai model sepatu kulit lainnya. Keterampilan itu dimiliki setelah beberapa tahun lalu Pemerintah Kabupaten Asahan memfasilitasi para pengrajin untuk magang, belajar membuat berbagai model sepatu ke Kota Bandung.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari para pembuat sepatu dan sandal, dalam sehari rata-rata pengusaha sepatu bunut hanya bisa memproduksi selusin pasang sepatu maupun sandal. Di samping permintaan yang sepi, dukungan pemerintah daerah tidak maksimal, ditambah perhatian masyarakat Sumatera Utara perihal keberadaan sentra pembuatan sepatu Bunut yang kurang, semakin membuat produksi semakin terpuruk, padahal kualitas jahitan nya baik, rapi dan dijamin kuat.

Semestinya kalau Cibaduyut, Bandung bisa, Bunut juga bisa juga. Jadi jangan tunda lagi, jangan lupa singgah dan dukung para pengerajin sepatu dan sandal Bunut dengan membeli saat berkunjung ke Kota Kisaran, Kabupaten Asahan. Bersama membangkitkan kejayaan Bunut di masa lalu kembali. (Nm).


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Dirasa Pandemi Covid-19 Sudah Kelar, 1000 Tenda Kaldera Toba Festival Kembali Digelar

Natamagazine.co – Sempat tidak diselenggarakan selama dua tahun sejak 2019 karena pandemi Covid-19, kini 1000 ...

Translate »