Angkor Wat, Peninggalan Kerajaan “Kota Kuno Air” Kamboja Yang Sangat Populer di Dunia

Natamagazine.co – Tak ada yang tak mengenal Angkor Wat saat ini yang memiliki pesona dan daya tarik pariwisata luar biasa. Angkor Wat menjadi salah satu peninggalan kerajaan Kamboja yang amat populer di seluruh dunia dan sisa simbol kejayaan Kerajaan Khmer (Kamboja) yang pernah mencapai puncak kejayaan pada abad ke-12.

Melansir Ensiklopedia Sejarah Dunia, Kekaisaran Khmer berlangsung sejak tahun 802 M hingga 1431 M. Pada puncaknya, kekaisaran ini menguasai sebagian besar wilayah yang sekarang adalah Kamboja, Thailand, Laos, dan Vietnam selatan. Kamboja menjadi negara tempat lokasi keberadaan Angkor Wat, negara yang berada di daratan Indochina Asia Tenggara dan menjadi negara yang kuat di kawasan tersebut. Sebagian besar wilayah Kamboja berupa dataran dan sungai besar. Negara ini terletak di tengah jalur perdagangan penting yang menghubungkan China ke India dan Asia Tenggara.

Pada abad ke-7 M, orang Khmer mendiami wilayah di sepanjang sungai Mekong, yang merupakan sungai terpanjang di dunia. Mereka mendiami wilayah tersebut dari delta hingga kira-kira perbatasan Kamboja-Laos modern. Selama 2.000 tahun peradaban Kamboja menyerap pengaruh dari India dan China. Peradaban berlangsung dari kerajaan Hindu-Budha Funan dan Chenla (abad ke-1-8) hingga zaman klasik periode Angkor (abad ke-9-15). Mereka kemudian berpindah ke peradaban Asia Tenggara lainnya, dilansir dari Ensiklopedia Britannica.

Kerajaan Khmer mencapai puncaknya pada abad ke-12. Kejayaan tersebut ditandai dengan pembangunan kompleks candi besar yang dikenal sebagai Angkor Wat dan Bayon dan ibu kota kekaisaran Angkor Thom. Kota Angkor berfungsi sebagai pusat pemerintahan dinasti raja Khmer yang terkenal paling makmur dan canggih dalam sejarah Asia Tenggara. Dari akhir abad ke-9 hingga awal abad ke-13, banyak proyek konstruksi dilakukan, yang paling menonjol adalah Angkor Wat. Angkor Wat menjadi peninggalan kerajaan Kamboja yang amat populer di seluruh dunia.

Angkor Wat dibangun oleh Raja Suryavarman II. Melansir Westport Library, pada awalnya Angkor Wat dibangun sebagai candi Hindu yang didedikasikan untuk dewa Wisnu. Candi ini diubah menjadi kuil Buddha pada abad ke-14. Patung Buddha juga dibangun di kuil ini.

Bangunan bersejarah ini memiliki kompleks luas yang terdiri dari lebih dari dari seribu bangunan. Angkor Wat juga menjadi salah satu keajaiban budaya terbesar di dunia. Keindahan artistik dari arsitektur kuno membuat kuil ini ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 1992. Saking luasnya Angkor Wat Kamboja sampai disebut sebagai “Temple City”. Adanya labirin pertahanan dari dinding dan parit, lima menara megah dan juga patung-patung batu pasir ini bukan hanya menjadi simbol kebanggaan bagi kebudayaan nasional, tapi juga menjadi salah satu bangunan keagamaan terbesar hasil ekspresi arsitektur kuno yang pernah dibangun.

Angkor Wat kini menjadi monumen keagamaan terluas di dunia yang sudah ada sejak sekitar 900 tahun yang lalu dan terbentang sekitar 400 km persegi. Setiap wisatawan dapat berjalan beberapa kilometer menyusuri dan mengikuti sebagian kecil jalanan di Siem Reap untuk bisa membaca tulisan tangan “Angkor Wat in Miniature” hingga akan menemukan yang terkecil.

Sebagai candi paling terawat di situs arkeologi Angkor, Angkor Wat adalah satu-satunya bangunan yang masih difungsikan sebagai pusat kegiatan religius sejak didirikan. Mahakarya arsitektur Khmer langgam klasik ini merupakan salah satu situs peziarahan utama umat Buddha Kamboja maupun umat Buddha dari seluruh penjuru dunia. Candi ini sudah menjadi lambang negara Kamboja, corak hias bendera Kamboja, dan daya tarik wisata utama di Kamboja. Angkor Wat juga turut berjasa mentransformasi Kamboja menjadi sebuah negara Buddha.

Angkor Wat merupakan perpaduan dua langgam utama bangunan candi Khmer, yakni langgam candi gunungan dan langgam candi berserambi. Angkor Wat dirancang sebagai lambang Mahameru, persemayaman para dewa menurut kosmologi Hindu-Buddha. Percandian yang dikelilingi waduk sepanjang lebih dari 5 kilometer (3 mil) dan dipagari tembok sepanjang 3,6 kilometer (2,2 mil) ini memiliki tiga serambi persegi panjang dengan ketinggian yang berbeda-beda satu sama lain. Di tengah-tengah percandian berdiri lima candi menara dalam tatanan pancayatana.

Berbeda dari candi-candi Angkor pada umumnya, Angkor Wat dibangun menghadap ke barat. Belum ada kesepakatan di kalangan para ahli mengenai alasan yang melatarbelakangi perbedaan tersebut. Percandian ini dikagumi karena kemegahan tampilan maupun keselarasan tata bangunannya, relief-relief rendahnya yang berlimpah ruah, serta arca-arca para Buddha dan dewa yang terpahat pada dinding-dindingnya..

Angkor Wat juga dikenal sebagai ‘Kota air’ kuno yang jadi saksi kebangkitan dan kehancuran kerajaan Kamboja. Air adalah salah satu rahasia kesuksesan kekaisaran. Setiap April selama perayaan Tahun Baru Khmer, warga Kamboja membawa persembahan dan berziarah ke Phnom Kulen, gunung paling suci di Kamboja. Sebagai tempat kelahiran Kekaisaran Angkor yang perkasa, lereng gunung Kulen memiliki tempat khusus di hati para penduduk setempat. Selama perayaan tradisi keagamaan, warga Kamboja berduyun-duyun ke puncak Kulen demi diberkati dengan air yang sama yang digunakan untuk menobatkan raja Kamboja sejak 802 M.

Kala itu, pendiri kerajaan Jayawarman II diberkati dengan air suci dan dinobatkan sebagai devaraja, atau Raja Dewa. Penobatan itu sekaligus menandai dimulainya Kerajaan Angkor. Kerajaan itu kemudian memperluas wilayahnya hingga ke sebagian besar Kamboja, Laos, Thailand, dan Vietnam. Adapun, Angkor menjadi pusat kota pra-industri terbesar di dunia.

Daya pikat abadi dari kota-kota yang hilang
Untuk mengabadikan tempat suci yang berlokasi sekitar 50 kilometer di utara kota Siem Reap ini, sebanyak 1.000 lingga – inkarnasi simbol falus dewa Siwa – diukir di dasar sungai di Kbal Spean, yang mengaliri dataran Angkor dan bermuara ke Danau Tonle Sap. Bahkan hingga kini, air dari sungai ini dianggap suci dan diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membawa keberuntungan.Berkat spiritual Jayawarman II menandai dimulainya hubungan dekat Kerajaan Angkor dengan air.

Hal itu semakin menjadi ketika ibu kota kerajaan dipindahkan ke Rolous yang terletak di sebelah selatan wilayah kerajaan itu, dan ke kemudian ke tempat peristirahatan terakhir Jayawarman II selama lebih dari lima abad – Angkor. Di sana, para insinyur menggunakan keterampilan mereka untuk menciptakan sistem air yang rumit, yang menjadi saksi kebangkitan dan kekaisaran Angkor.

Angkor Wat diselimuti hutan belantara sampai tahun 1860 dan ditinggalkan. Penyebab hancurnya pada abad ke-15, telah lama diperdebatkan oleh para peneliti. Ditinggalkannya kota kuno ini oleh masyarakat pada tahun 1431 M digambarkan sebagai kehancuran demografis yang sangat besar. Ketika itu Angkor “ditemukan kembali” pada abad ke-15 oleh penjelajah Prancis, Henri Mouhot.

Temuan Henri Mouhot itu memicu serangkaian proyek restorasi besar yang berlanjut hingga kini. Dalam dua dekade terakhir, Kamboja mencatat peningkatan pesat jumlah turis yang berbondong-bondong ke Taman Arkeologi Angkor Wat. Tujuan para turis itu adalah berdiri di bawah bayang-bayang candi Angkor Wat, yaitu Ta Prohm dan Bayon.

Pada 2019, sebanyak 2,2 juta orang menjelajahi situs arkeologi tersebut. Lonjakan pengunjung hotel, restoran dan turis memberikan tekanan besar pada permintaan air, yang menyebabkan pada kekurangan pasokan air yang drastis. Lantaran candi bergantung pada pasokan air tanah yang konstan agar tetap berdiri, kekurangan pasokan air memicu kekhawatiran atas pelestarian situs yang terdaftar di UNESCO sebagai cagar budaya tersebut.

Pada dekade 1950-an hingga 1960-an, arkeolog asal Prancis, Bernard Phillipe Groslier, menggunakan arkeologi udara untuk merekonstruksi tata letak kota kuno Angkor. Penelitiannya ini mengungkap kompleksitas jaringan pengelolaan air dan cakupannya yang luas. Ini membuat Groslier menjuluki Angkor sebagai kota hidraulis atau kota yang seluruh aktivitasnya digerakkan oleh sumber daya air. Sejak itu, para arkeolog melakukan penelitian ekstensif terhadap jaringan air dan peran vital yang dimainkannya pada Angkor. (Nm)


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

10 Tari Tradisional Indonesia Paling Populer di Dunia Internasional

Natamagazine.co – Hari Tari Sedunia diperingati setiap tanggal 29 April. Semua negara-negara di dunia memiliki ...

Translate »