Sejarah Kerajaan Melayu Yang Pernah Berjaya di Pantai Sumatera Timur

Natamagazine.co – Sebagaimana banyak ditulis, disusun, dibuat dan dirangkum di buku-buku sejarah serta literasi sejarah Nusantara bahwa di Indonesia dahulu berdiri kerajaan Melayu atau Malayu yang pernah berjaya di pantai Sumatera Timur. Dari berita Tiongkok, diketahui bahwa Kerajaan Melayu berdiri sekitar abad ke-7, dengan pusat di Minanga. Sementara pada abad ke-13, pusatnya berada di Dharmasraya dan pada abad ke-15 berpusat di Pagaruyung.

Namun, belum ada bukti sejarah yang memuat tentang siapa pendiri Kerajaan Melayu dan juga tidak disebutkan Kerajaan Melayu bercorak agama apa. Namun berdasarkan catatan sejarah yang ditemukan, Raja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa, yang berkuasa mulai 1183 di Dharmasraya diketahui adalah Raja Kerajaan Melayu yang pertama.

Kerajaan Melayu berada di pulau Swarnadwipa atau Swarnabumi (Thai:Sovannophum) yang oleh para pendatang disebut sebagai pulau emas yang memiliki tambang emas, dan pada awalnya mempunyai kemampuan dalam mengontrol perdagangan di Selat Melaka sebelum akhirnya terintegrasi dengan Kerajaan Sriwijaya (Thai:Sevichai) pada tahun 682.

Penggunaan kata Melayu, telah dikenal sekitar tahun 100–150 seperti yang tersebut dalam buku Geographike Sintaxis karya Ptolemy yang menyebutkan maleu-kolon. Dan kemudian dalam kitab Hindu Purana pada zaman Gautama Buddha terdapat istilah Malaya dvipa yang bermaksud pulau Melayu.

Karena letaknya yang strategis, kerajaan Melayu sempat memegang kendali perdagangan di Selat Malaka, dan terletak di tengah pelayaran antara Kerajaan Sriwijaya dan Kedah, sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Para ahli sejarah sepakat bahwa pusat kerajaan ini berada di hulu Sungai Batang Hari, Jambi namun semua sumber sejarah utama yang memuat tentang bukti keberadaan kerajaan ini berasal dari Tiongkok, menurut catatan I-Tsing dari Kanton.

Kisah pelayaran I-Tsing dari Kanton tahun 671 diceritakannya sendiri, dengan terjemahan sebagai berikut:

“Ketika angin timur laut mulai bertiup, kami berlayar meninggalkan Kanton menuju selatan ….
Setelah lebih kurang dua puluh hari berlayar, kami sampai di negeri Sriwijaya. Di sana saya berdiam selama enam bulan untuk belajar Sabdawidya. Sri Baginda sangat baik kepada saya. Dia menolong mengirimkan saya ke negeri Malayu, di mana saya singgah selama dua bulan. Kemudian saya kembali meneruskan pelayaran ke Kedah ….
Berlayar dari Kedah menuju utara lebih dari sepuluh hari, kami sampai di Kepulauan Orang Telanjang (Nikobar) ….
Dari sini berlayar ke arah barat laut selama setengah bulan, lalu kami sampai di Tamralipti (pantai timur India)”

Perjalanan pulang dari India tahun 685 diceritakan oleh I-tsing sebagai berikut:

“Tamralipti adalah tempat kami naik kapal jika akan kembali ke Tiongkok. Berlayar dari sini menuju tenggara, dalam dua bulan kami sampai di Kedah. Tempat ini sekarang menjadi kepunyaan Sriwijaya. Saat kapal tiba adalah bulan pertama atau kedua ….
Kami tinggal di Kedah sampai musim dingin, lalu naik kapal ke arah selatan. Setelah kira-kira sebulan, kami sampai di negeri Malayu, yang sekarang menjadi bagian Sriwijaya. Kapal-kapal umumnya juga tiba pada bulan pertama atau kedua. Kapal-kapal itu senantiasa tinggal di Malayu sampai pertengahan musim panas, lalu mereka berlayar ke arah utara, dan mencapai Kanton dalam waktu sebulan.”

Menurut catatan I Tsing, Sriwijaya menganut agama Buddha aliran Hinayana, kecuali Ma-la-yu. Kata Malayu sendiri berasal dari kata Malaya yang dalam bahasa Sanskerta berarti bukit. Oleh karena itu, beberapa ahli berpendapat bahwa pelabuhan Melayu terletak di Kota Jambi, tetapi istananya berada di daerah pedalaman yang berbukit. Terlebih lagi, Prasasti Tanjore yang dikeluarkan oleh Rajendra Chola I menyebutkan bahwa ibu kota Kerajaan Melayu dilindungi oleh benteng-benteng dan terletak di atas bukit. Sementara ahli geografi Persia bernama Abu Raihan Muhammad yang mengunjungi Asia Tenggara pada 1030 menyebutkan bahwa ia singgah di pulau emas. Para pendatang memang sering menyebut Pulau Sumatera sebagai pulau penghasil emas.

Dari berita T’ang-Hui-Yao yang disusun oleh Wang P’u, Kerajaan Melayu pertama kalinya mengirimkan utusan ke Tiongkok pada 645 Masehi. Pada awalnya, kerajaan ini memiliki kendali atas perdagangan di Selat Malaka. Namun, setelah munculnya Kerajaan Sriwijaya pada sekitar 670 Masehi, Melayu tidak lagi mengirimkan utusannya ke Tiongkok. Hal ini dikarenakan pada 685 Masehi Kerajaan Melayu telah menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya.

Tapi nama Kerajaan Melayu kemudian muncul di Kitab Pararaton pada 1275, saat Raja Kertanegara dari Singasari mengirim tentaranya ke Melayu. Pengiriman utusan yang dikenal dengan Ekspedisi Pamalayu ini bertujuan untuk menaklukkan Kerajaan Melayu, sebagai salah satu langkah perluasan wilayah Singasari. Namun, ada pula pendapat para ahli yang menyatakan bahwa tujuan Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menjalin persahabatan dengan Melayu dan membebaskannya dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa (1183 M), Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa (1286-1316 M), Akarendrawarman (1316-1347 M), Adityawarman (1347-1375 M), Ananggawarman (1375-1417 M), Wijayawarman (1417-1440 M) dan Puti Panjang Rambut II (1440-1470 M)
adalah deretan nama-nama raja Kerajaan Melayu berdasarkan catatan dan bukti sejarah yang berhasil ditemukan.

Kini kejayaan dan kemegahan kerajaan Melayu Kuno hanya tinggal kenangan dan sejarah saja di dunia. Banyak sejarah termasuk bagaimana Islam akhirnya punya pengaruh di kerajaan Melayu masih belum lagi diketahui. Di dunia hanya menyisakan dua kerajaan-kerajaan Melayu besar yang dipimpin oleh orang bangsa etnis Melayu yakni Malaysia dan Brunei Darussalam. Apakah kedua negara tersebut punya benang merah dengan kerajaan Melayu Kuno? Namun yang jelas perubahan-perubahan sosial termasuk revolusi sosial terus terjadi silih berganti berimbas kepada keberadaan dari suku etnis Melayu itu sendiri.

(Nm)


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

10 Tari Tradisional Indonesia Paling Populer di Dunia Internasional

Natamagazine.co – Hari Tari Sedunia diperingati setiap tanggal 29 April. Semua negara-negara di dunia memiliki ...

Translate »