Tanggung Jawab Siapa Kota Medan Masih Kekurangan Kuliner Kearifan Lokal?

Natanagazine.co – Kota Medan sebagai The Kitchen of Asia sebagaimana keinginan Walikota Medan, Muhammad Bobby Afif Nasution, S.E., M.M., mungkinkah? The Kitchen of Asia digelar Bobby di area yang memiliki sejarah berharga peninggalan kolonial Belanda yaitu area cagar budaya di Kesawan, kawasan paling heritage di Kota Medan. Namun karena berbagai alasan, khususnya karena situasi pandemi Covid-19, kegiatan dihentikan sebagaimana rencana dan belum ada kabar kembali akan digelar.

Sesungguhnya memilih Kesawan sebagai sentral berbagai jajanan dan makanan baik lokal atau internasional bukan hal baru bagi warga Kota Medan, sebab ketika walikota Abdillah menjabat, kawasan Kesawan pernah digunakan juga sebagai pusat jajanan dengan tajuk “Kesawan Square”. Ungkapan “The kitchen of Asia'” berarti dapur yang saat ini tidak lagi tertutup, namun menjadi sebuah “entertainment”. Dan yang diharapkan Bobby Nasution adalah bahwa ke depan, masing-masing etnis menceritakan kuliner kekhasannya.

Memang tidak dipungkiri, Medan adalah surganya berbagai makanan enak dalam rasa meski menemukan jenis makanan otentik asal Kota Medan yang identik dengan Melayu Deli apalagi dari kearifan lokal sangat sulit. Tapi jangan ditanya bila jenis makanan lainnya, mulai dari sop, soto, martabak, dimsum, mie ayam, ayam penyet, ayam kremes dan jenis masakan lainnya yang sesungguhnya ada dan berasal dari daerah lain.

Ide Bobby Nasution bagus tapi menjadi tidak bagus dan gelegar jika tidak didukung masyarakat, dinas-dinas terkait dan juga promosi dan kemasan produk yang bagus. Terlebih-lagi lagi bila ingin menjadikan Kota Medan sebagai ibukota kuliner Indonesia dengan mengadopsi jenis makanan Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia yang terdapat beragam di Kota Medan bukan memperbanyak kuliner kearifan lokal.

Ahmad Lutfhi Hutasuhut, S.Sos, MM, Pembina Yayasan Mulki Vokasi Indonesia dan juga praktisi industri kreatif dalam suatu wawancara menyebutkan bahwa ide The Kitchen of Asia adalah suatu ide yang hebat tapi terkesan tidak dipahami warga Kota Medan secara konsep dan sepertinya hanya sesaat dan tidak berkelanjutan.

“Bicara tentang The kitchen of Asia tentunya berbicara tentang Asia yang sangat luas, ada 48 negara yang masing- masing memiliki kekayaan kuliner yang juga luar biasa, ini bukan pekerjaan mudah dan juga bukan pekerjaan ringan bagi bapak Walikota Medan, belum lagi ada 14 etnis yang ada di Kota Medan yang masing-masing memiliki kekayaan kuliner yang juga sangat luar biasa, mulai dari bahan, penggunaan rempah yang banyak serta penyajiannya yang cukup menarik, hanya saja kenapa tidak melakukan pengembangan terhadap kuliner kearifan lokal yang ada di Medan terlebih dahulu yang juga tidak kalah dengan kuliner Asia lainnya, bila ada, saya siap mendukung penuh dan memberikan ide-ide serta gagasan yang harus dilakukan kepada Walikota Bobby,” ujar Luthfi yang juga seorang dosen kewirausahaan di Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) SUKMA yang beralamat di Jalan Sakti Lubis Medan. .

Hal yang sama juga diungkapkan Alexander Chrisse Ginting Munthe, S.Pd, tenaga pendidik di Yayasan Mulki Vokasi Indonesia yang juga pemerhati budaya Sumatera Utara bahwa program besar bapak Walikota Medan yang berkeinginan membuat Kota Medan sebagai kota kuliner sangat tepat dan harus didukung semua pihak, hanya saja harus mengedepankan kuliner kearifan lokal.

“Semua pihak warga Kota Medan tanpa terkecuali, apakah dinas-dinas terkait, stakeholder, asosiasi-asosiasi, kampus, dan organisasi kemasyarakatan harus mendukung usaha Walikota Medan karena telah memberi ruang bagi para UMKM dan ekonomi kreatif untuk eksis dengan produk-produknya, dan semua pihak tersebut diberi peranan memberi usulan dan saran agar Kota Medan akhirnya menjadi ibukota kuliner terwujudkan sehingga pada akhirnya banyak orang di Kota Medan sejahtera hidupnya, boleh mengikuti kemajuan jaman, tapi jangan meninggalkan khasanah budaya apalagi kuliner kearifan lokal,” ungkap Alexander yang juga seorang Chef.

The Kitchen of Asia merupakan program Walikota Medan Bobby Nasution untuk membuat warga Medan memiliki wadah bagi para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif. Sebagai Walikota, Bobby memiliki keinginan menjadikan kawasan Kesawan kota tuanya Kota Medan sebagai pusat budaya dan juga kuliner dengan tetap menjaga keasliannya. Hanya saja perihal kuliner kearifan lokal tidak menjadi prioritas utama dalam pelaksanaannya.

Kuliner kearifan lokal sesungguhnya akan menjadi daya tarik tinggi bagi pariwisata yang tentu saja akan menaikkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) bila dikemas dengan baik dan menjadi icon bagi pariwisata dan bagi warga yang tinggal dan pernah berkunjung ke Kota Medan. Ada sebuah kutipan yang mengatakan ”dapur adalah jantung dari rumah”, semoga Kota Medan benar-benar menjadi jantung Indonesia karena kekayaan kuliner dan kuliner kearifan lokalnya.

(Nm)


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Ikan Bakar Pacak Kuliner Asli Khas Pesisir Sibolga Kini Hadir di Kota Medan

Natamagazine.co – Kota Medan dikenal dengan surganya aneka macam kuliner, baik dari luar Kota Medan ...

Translate »