Sejarah Panjang Ikan Asin Sudah Ada Sejak Jaman Mataram Kuno Abad VII-XI Masehi

Natamagazine.co – Masyarakat Indonesia tidak mungkin tidak tahu ikan asin. Ikan yang diolah dan diawetkan dan rasanya menjadi asin karena dicampur menggunakan banyak garam. Tujuannya agar ikan menjadi tahan disimpan dalam jangka waktu yang lama, baru setelahnya ikan asin dijadikan lauk nasi atau berbagai jenis masakan yang menggugah selera. Meski kerap dipandang tak berkelas, beragam olahan kuliner yang lezat, bisa dikreasikan dari bahan makanan satu ini.

Ada banyak jenis ikan yang bisa diolah menjadi ikan asin. Mulai dari ikan jambal roti, ikan peda, ikan teri, ikan kakap, ikan gabus dan masih banyak lagi. Ikan asin juga cocok dipadukan dengan masakan apapun, seperti sayur asem, sayur bayam hingga tumisan, bahkan hanya dengan sambal saja sudah enak. Tak hanya digoreng saja tetapi juga dipadukan dengan makanan lain. Seperti dibuat nasi goreng ikan asin yang kemudian populer sebagai menu restoran.

Meski dikenal sebagai makanan kampung, tetapi ikan asin selalu menjadi favorit semua orang. Namun, tahukah kamu bagaimana sejarah ikan asin di Indonesia? Dan dahulu, ikan asin merupakan makanan yang disajikan untuk upacara penetapan sima (tanah suci). Karenanya ikan asin tak hanya sekadar makanan tetapi memiliki arti penting sejak abad VII-XI Masehi dan digemari serta memiliki hubungan dengan perekonomian dan sosial masyarakat Mataram Kuno.

Dulu ikan asin menjadi salah satu komoditas yang sering diperdagangkan oleh masyarakat Mataram Kuno. Hal tersebut tertuang dalam buku berjudul “Pasar di Jawa: Masa Mataram Kuno Abad VII-XI Masehi” yang ditulis seorang Arkeolog Titi Surti Nastiti. Titi menuliskan bahwa ikan asin tercatat di dua prasasti, yaitu Prasasti Pangumulan A (tahun 824 saka atau 902 Masehi) dan Prasasti Rukam (tahun 829 saka atau 907 Masehi).

Di kedua prasasti tersebut menjelaskan jenis-jenis ikan yang dijadikan ikan asin. Jenis ikan yang diasinkan atau dendeng ikan, terutama jenis-jenis ikan laut seperti ikan kembung, ikan kakap, ikan tenggiri. Selain itu, juga tertulis bahwa ikan asin memiliki dua sebutan, yaitu grih atau kini dikenal dengan gereh dalam bahasa Jawa. Ada juga dendain untuk yang dikeringkan atau disebut juga dendeng.

Dalam bukunya Titi Surti Nastiti, menjelaskan sejarah ikan asin terkait aktivitas ekonomi dan sosial masyakarat Mataram Kuno. Buku Titi yang berjudul Pasar di Jawa: Masa Mataram Kuno Abad VII-XI Masehi mengungkap, bahwa masyarakat Mataram Kuno menjadikan ikan asin menjadi salah satu komoditi yang kerap diperdagangkan di pasar-pasar di Jawa sejak 13 abad silam. Jaman itu ikan asin digunakan sebagai hidangan upacara Dalam Prasasti Rukam grih atau dendain digunakan sebagai hidangan yang disajikan dalam upacara penetapan sima (tanah suci).

Dari bukti sejarah itu, ikan rupanya tak hanya jenis makanan yang dikonsumsi sehari-hari, tetapi juga jadi hidangan yang disajikan dalam upacara-upacara besar. Kini, setelah 13 abad, ikan asin masih eksis di tengah masyakarat Indonesia dan menjadi menu favorit. Terlepas dari stigma tak berkelasnya, ikan asin tetap menjadi komoditi dan penyelamat perekonomian bangsa Indonesia.

(Nm)


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Ikan Bakar Pacak Kuliner Asli Khas Pesisir Sibolga Kini Hadir di Kota Medan

Natamagazine.co – Kota Medan dikenal dengan surganya aneka macam kuliner, baik dari luar Kota Medan ...

Translate »