Memahami Sejarah dan Asal Mula Raja Tanah Deli dan Kejeruan Metar Bilad Deli

Natamagazine.co – Bermula dari perjalanan seorang Raja dari Negeri Ahmadnagar yang terletak di barat laut Dekkan, antara Gujarat dan Bijapur di India Selatan. Raja itu bernama Mani Purindan. Dikisahkan Mani Purindan dalam mengarungi samudera dengan misi untuk melihat daerah lain menggunakan Kapal. Saat Mani Purindan melewati samudera laut Aceh, kapal yang ditumpangi oleh Mani Purindan beserta dengan beberapa orang pengawalnya pecah karena badai yang besar sebagaimana dikutip dari informasi yang diberikan Raja Kejeruan Metar Bilad Deli ke XI Tengku Muhammad Fauzi, S.Kom. M.H, gelar Al Mulk Akbar Shah Ibni Tengku Zaini yang berkisah tentang sejarah dan silsilah Kejeruan Metar Bilad Deli (KMBD).

Menggunakan peralatan mengapung seadanya, salah satu peralatan itu adalah Gong bernama Anjing Laut yang terbuat dari logam mulia, akhirnya Mani Purindan dan rombongannya terdampar di pantai Kerajaan Aceh (Samudera Pasai) yang masa itu Rajanya adalah Haidar Bin Malik al Saiyid. Masyarakat pesisir pantai yang melihat terdamparnya ketujuh orang dari Negeri Ahmadnagar melihat beberapa keanehan yang salah satu diantaranya adalah terbaringnya salah satu dari ke tujuh orang itu berada di atas badan enam orang yang lain dalam keadaan melintang.

Terdamparnya tujuh orang asing itu selanjutnya di laporkan masyarakat pesisir pantai Aceh pada Sang Raja Aceh (Samudera Pasai). Selanjutnya setelah dibawa ke istana barulah Raja Aceh mengetahui salah satu diantara mereka adalah seorang Raja dari Kerajaan Ahmadnagar bernama Mani Purindan, lalu Raja Aceh (Samudera Pasai) mengawinkan Mani Purindan dengan salah seorang anaknya yang bernama Nahrisyah Rawangsa.

Dari pernikahan ini pasangan itu memperoleh dua orang putra yang bernama Tuanku Saidi Marhum dan Tuanku Saidi Abdul Falaif sebagai anak keduanya. Pada masa dewasanya Tuanku Saidi Marhum diangkat menjadi Raja Perlak di Pasai dan Tuanku Saidi Abdul Falaif diutus ke Negeri Deli sebagai Panglima Raja Aceh (Samudera Pasai). Tuanku Saidi Abdul Falaif di Tanah Deli mempersunting Putri Datuk Serbanyaman bernama Nang Baluan. Dalam pernikahan tersebut, Tuanku Saidi Abdul Falaif memperoleh dua orang putra bernama Gunja Pahlawan dan Jugi. Gunja Pahlawan lalu menjadi satu-satunya Putra Deli yang menjadi Panglima Aceh, sedangkan Jugi tidak diketahui kabar beritanya.

Dalam perjalanan karirnya Gunja Pahlawan memperoleh gelar Sri Johan Indera Pahlawan. Gunja Pahlawan kemudian menikahi Putri Kejeruan Sinembah. Putra dari Gunja Pahlawan inilah yang kemudian membawa marga Sembiring Pelawi (Sembiring yang di-rajakan). Dalam pernikahannya dengan Suripuan Kejeruan Sinembah, Gunja Pahlawan memperoleh dua orang putra bernama Tengku Panglima Tua dan Tengku Kesawan. Tengku Panglima Tua dalam hidupnya memperoleh seorang putra bernama Tengku Sutan Panglima, sedangkan saudaranya Tengku Kesawan pindah ke Serba Jadi memperoleh dua orang putra bernama Tengku Laiddin dan Tengku Aripin, kedua orang putra Tengku Kesawan inilah yang menjadi asal muasal Kejeruan Santun Serba Jadi.

Sementara Tengku Sutan Panglima mempunyai anak dua orang putra yang bernama Tengku Mahmud yang bergelar Tengku Kejeruan Ketaren dan Tengku Mahidin yang bergelar Tengku Kejeruan Padang dan dari Tengku Kejeruan Padang inilah asal usul Raja-raja Deli dan Raja-raja Serdang yang sekarang ini. Setelah waktu berselang Tengku Kejuruan Ketaren memperoleh putra bernama Tengku Jalaluddin (Asal Usul Kejeruan Metar Bilad Deli). Sementara Tengku Kejeruan Padang inilah berputrakan Tengku Derap dan Tengku Umar.

Semasa dewasanya Tengku Jalaluddin yang bersaudara dengan Tengku Derap dan Tengku Umar, mereka bersilaturahmi selalu, walaupun dalam kesehari-hariannya mereka melakukan aktivitas masing-masing, dalam masa itu di Tanah Deli masih dalam pemerintahan otonom satu sama lain karena belum adanya seseorang yang di-Rajakan, oleh karena itu diantara Kedatukan Deli berangkatlah ke Negeri Aceh atas permintaan Raja Aceh masa itu.

Kedatukan yang pada masa itu disebut Raja Aceh dengan sebutan Suku, berangkat ke Aceh, diantaranya Suku Sinembah (Datuk Patumbak) karena dia yang pertama menyembah disebutlah oleh Sultan Aceh menjadi Datuk Sinembah atau yang pertama kali menyembah, kedua suku Serbanyaman (Datuk Sunggal) ketiga Suku Sepuluh Dua Kota (Datuk Hamparan Perak) keempat Suku Suka Piring (Datuk Kampung Baru) dan kelima Suku Ujung (Kejeruan Ujung daerah Serba Jadi). Pada kesempatan itu dirembukkanlah siapa yang paling pantas untuk di-Rajakan di Tanah Deli sebagai pemimpin Tanah Deli.

Berdasarkan silsilah dan kajian kelayakan diputuskan Raja Aceh yang berunding dengan 5 suku di Tanah Deli, bahwa Tengku Derap bin Tengku Mahidin-lah yang paling berhak menjadi Raja di Tanah Deli. Selanjutnya Raja Aceh menitahkan perwakilan 5 Suku Deli ini menyampaikan kabar bahagia ini kepada Tengku Derap, dalam titah itu juga Sang Raja Aceh berkata:

“Hai Hulubalang Negeri Aceh (Sebutan Suku dari Raja Aceh) pulanglah kamu ke Negeri Deli, Engkau Rajakan Rajamu itu Panglima tiap-tiap adanya adalah Kejeruan Metar, itulah Rajamu adapun Kerajaan Raja itu Kejeruan Metarlah Pemangkunya. Dan apabila habis Rajamu itu atau sudah habis sebangsanya maka Suku Serbanyaman itulah Engkau mencari Raja yang tentu menjadi Raja. Adapun Serbanyaman itu ibarat Kapal Kepada Raja itu dan Suku Sinembah ibarat Lorong pada Raja itu, maka engkau Kelimalah yang memeliharakan Rajamu itu dan Serbanyaman itu Ulul Janji,” pesan Raja Aceh pada lima orang utusan Deli itu.

Mendapat kabar mengenai penunjukan Tengku Derap bin Tengku Mahidin menjadi Raja Deli, beliau (Tengku Derap) menyambut kabar itu dengan suka cita, tapi mengingat dirinya adalah anak dari Tengku Mahidin yang merupakan saudara kedua dari Tengku Mahmud, maka Tengku Derap menganggap yang paling berhak dalam memerintah Negeri Deli ini adalah Tengku Jalaluddin sebagai anak dari Tengku Mahmud. Selanjutnya Tengku Derap menyarankan agar Lima Datuk (Suku) mengalihkan kewenangan itu pada abang Slsepupunya Tengku Jalaluddin untuk memimpin Negeri Deli.

Permintaan Tengku Derap melalui Lima Datuk itu didengar oleh Tengku Jalaluddin, tapi dia menolak menjadi Raja Deli, timbul kebingungan para Datuk saat itu, lalu Tengku Jalaluddin menyarankan agar Lima Datuk bersama dirinya berangkat ke rumah Tengku Derap untuk meminta adik sepupunya itu menjadi Raja Deli, sedangkan dirinya tetap menjadi pemimpin Kejeruan Metar Bilad Deli yang bermukim di Negeri Deli Bagian Utara yang memiliki wilayah yang diatur sendiri.

Setelah permintaan itu disampaikan pada Tengku Derap maka resmilah Tengku Derap menjadi Raja Deli dengan Gelar Sutan Panglima Paderap Syah yang dinobatkan Kedatukan dan dibantu oleh Kejeruan yang ada di Tanah Deli, kedudukan Raja pada masa ini di Rantau Baru. Rapat pertama setelah diangkatnya Tengku Derap menjadi Raja Negeri Deli dengan Gelar Sutan Panglima Pederap Syah dilaksanakan di Jabi Rambai yang berlokasi di Seberang Sungai-Titipapan. Saat itu sekalian Pemangku Adat, Kedatukan dan masing-masing Kejeruan berkumpul di Jabi Rambai.

Saat itulah Titah pertama Sang Sutan Panglima Pederap Syah disampaikan yang isinya mengatakan bahwa wilayah Kejeruan Metar Bilad Deli yang merupakan pimpinan abang sepupunya yaitu Tengku Jalaluddin meliputi ilirnya (timur) Kampung Alai (Simpang Kantor sekarang). Sebelah Ulun (utara) dengan wilayah Glugur dan baratnya dengan wilayah Percut serta timurnya dengan wilayah Sungai Cempaka/ Sungai Bederah. Setelah Mufakat itu terucap maka perjanjian lisanpun diadakan dihadapan yang hadir, maka usai acara itu kembalilah para datuk ke asal masing-masing.

Adapun Tuanku Jalaluddin Kejeruan Metar Bilad Deli pindah ke daerah Mabar untuk bermukim, dari hasil pernikahannya Tuanku Djalaluddin mendapat tujuh orang anak, empat laki-laki, yaitu: Tuanku Syamsu Ta’jib, yang kemudian menjadi Raja Kejeruan Metar ke II (1709-1789), Tuanku Jamsid, Tuanku Sarum Dewa, kemudian menjadi Raja Kejeruan Percut I, dan Tuanku Nasir, bergelar Lebai Deli. Ada pun tiga orang putri dari Tuanku Jalaluddin, yaitu: Sri Putri Nur Asyikin, isteri Sultan Aceh Alauddin Johan Syah (1735-1760), Sri Putri Cendera Wasi dan Sri Putri Nur Jiwa.

Selanjutnya Tuanku Syamsu Ta’jib digantikan putranya Tuanku Nabab Deli Iqro’ sebagai Raja Kejeruan Metar ke III (1735-1807). Sedangkan Tengku Umar yang merupakan adik kandung Sutan Panglima Pederap Syah Raja Deli dipindahkan Tuanku Jalaluddin ke daerah Serdang dan sekalian datuk–datuk yang berada di Serdang harus merajakan Tengku Umar, lalu Tengku Umar mempunyai anak bergelar Sutan Johan dan seorang lagi bernama Tengku Hayat.

Setelah Tengku Umar wafat atas perintah Tengku Kejeruan Metar Bilad Deli, jasad Tengku Umar dimakamkan di Sampali, begitu juga dengan Sutan Johan juga dimakamkan di Sampali karena belum ada Zuriat-Zuriat (keluarganya) dimakamkan di Negeri Serdang. Adapun Tengku Hayat mempunyai dua orang putra bernama Tengku Pangeran dan Tengku Panglima. Sementara Sutan Johan merupakan anak pertama Tengku Umar mempunyai anak bernama Sutan Basyar Syah lalu keturunan selanjutnya dari Sutan Basyar Syah bernama Sutan Basyaruddin.

Demikian sejarah Kejeruan Metar Bilad Deli (KMBD) yang luhur dan publik wajib ketahui dari sumber terpercaya. Semoga menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Meski sejumlah bukti sudah ditemukan namun masih perlu ada lagi kajian-kajian, seminar serta penelitian selanjutnya, mengingat sejarah Kejeruan Metar Bilad Deli termasuk sejarah Negeri Deli sangat panjang yang kini segala bentuk kearifan lokal, adat istiadat dan budaya lama ingin dihidupkan dan di tumbuhkembangkan kembali, agar terus lestari, terjaga dan terpelihara dan agar Melayu tidak tergerus oleh jaman dan hilang di bumi yang semuanya ditujukan untuk generasi saat ini.

(Nm)


Redaksi Natamagazine.co For review your business, invitation and advertising, please do not hesitate to contact: +628126466637.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Tak Tanggung-tanggung, 4 Dosen STIM Sukma Medan Terpilih Sebagai Dosen Pendamping Lapangan Kampus Mengajar

Natamagazine.co – Program Kampus Mengajar sendiri merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) ...

Translate »